Kamis, 25 April 2013

Laporan Praktikum Afister



PENDAHULUAN
Latar Belakang
 Laju endap darah (LED) adalah sebuah pengukuran seberapa cepat sel-sel darah merah jatuh ke dasar sebuah tabung uji. Ketika pembengkakan dan peradangan hadir, protein darah mengumpul dan menjadi lebih berat dari biasanya. Jadi, ketika diukur, mereka mengendap dan berkumpul lebih cepat di bagian bawah dari tabung uji. Umumnya, semakin cepat sel-sel darah turun, lebih parah peradangan. LED adalah gambaran komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dan plasma. Darah dengan antikoagulan yang dimakksudkan ke dalam tabung bervolume kecil dan diletakan tegak lurus selama 1 jam akan menunjukkan pengendapan eritrosit dengan kecepatan yang ditentukan oleh rasio permukaan perbandigan volume eritrosit. (Sacher. RA, 2004).
Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium sekelilingnya (plasma).Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll.Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma)( Anonim, 2008 ).
Tujuan dan Manfaat
Tujuan
Adapun tujuan praktikum Anatomi dan Fisiologi Ternak yang berjudul Laju Endap Darah ialah untuk menentukan laju endap darah dengan tabung Watergreen. Sedangkan tujuan praktikum Hemolisis ialah untuk mengamati hemolisis darah dan keriput pada membran peritrosit (krenasi) akibat perubahan larutan medium darah.


Manfaat
Adapun manfaat yang didapatkan dari praktikum hemolisis ini adalah kita dapat mengetahui terjadinya hemolisis atau tidak pada darah, dan juga terjadinya krenasi pada darah jika kita memberikan larutan hipotonis. Kita juga mengetahui bentuk krenasi darah dari mikroskop setelah dilakukan percobaan.



TINJAUAN PUSTAKA
LAJU ENDAP DARAH
(Barbara, 2006) Darah normal mempunyai LED relatif kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi di imbagi oleh tekanan keatas akibat perpindahan. Bila viskositas plasma tinggi atau kadar kolesterol meningkat tekanan keatas mungkin dapat menetralisasi tarikan kebawa terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya setiap keadaan yang meningkatkan penggumpalan atau perletakan satu dengan yang lain akan meningkatkan LED.
(Isbister, 2000) Penentuan nilai LED secara umum telah digunakan dalam pengobatan klinik, menegakkan diagnosis, mengetahui penyakit secara dini dan memantau perjalanan penyakit seperti tuberkolosa dan reumati. Peningkatan kecepata pengendapan berhubungan langsung dengan beratnya penyakit.
 (Riswanto, 2009) Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih menyukai metode Westergreen daribada metode Wintrobe. Selain itu, International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen.
 (Tambayong J, 2000) LED adalah kecepatan eritrosit mengendap dalam pipet westergren. Pada peradangan, kecepatan meningkat, karena perubahan pada komponen plasma yang terjadi selama proses inflamasi. Protein plasma yang terlibat dalam peningkatan LED disebut protein fase akut, terutama dilepaskan oleh hati. LED khususnya digunakan untuk membantu aktivitas berbagai penyakit inflamasi.
 (Widodo, 2004) Laju endap darah yang ditemukan pertama kali oleh Westergren pada tahun 1921. LED merupakan pemerikksaan yang menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dengan plasma. 
 (Widodo,  dkk, 2004) Prinsip dasar pemeriksaan LED adalah; darah dan antikoagulan dimasukkan ke dalam tabung dengan lubang ukuran tertentu (pada pipet LED) dan diletakan vertikal akan menyebabkan pengendapan eritrosit dengan kecepatan tertentu. LED merupakan kecepatan pengendapan dengan  mengukur jarak antara miniscus pemeriksaan LED. Beberapa faktor  yang mempengaruhi LED, yang dapat meningkatkan LED adalah usia tua, wanita, saat mensturasi, kehamilan, ukuran eritrosit (macrositosis), faktor teknis (masalah pengenceran, suhu ruangan/panas, kemiringan tabung LED) , peningkatan fibrinogen (pada beberapa kasus infeksi, inflamasi, dan keganasan). Faktor yang dapat menurunkan LED adalah lekositosis berat, polisitemia, speherositosis (acantositosis, micrositpsis ), faktor teknis (masala pengenceran, darah beku, tabung penden, getaran), abnormalitas protein (hipofibrinogenemia, hipogammaglobulinnemia, dispoteinemia). Faktor yang belum pasti mempengaruhi LED adalah obesitas, suhu badan, dan usai mengkomsumsi aspirin.

HEMOLISIS
Cormack. (2008) mengatakan bahwa Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat disebabkan karena penurunan tegangan permukaan membrane sel dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular  famili Elapidae.
(Hendrayani, 2007) Osmosis memainkan peranan yang sangat penting pada tubuh makhluk hidup, misalnya, pada membrane sel darah merah. Jika meletakan sel darah merahdalam suatu larutan hipertonik (lebih pekat), air yang terdapat dalam sel darahakan ditarik keluar dari sel sehingga sel mengerut dan rusak. Peristiwa ini disebut krenasi. Sebaliknya, jika kamu meletakan sel darah merah dalam suatu larutanyang bersifat hipotonik (lebih encer), air dari larutan tersebut akan ditarik masuk kedalam sel darah sehingga sel mengembang dan pecah. Proses ini disebut hemolisis. Orang yang mengonsumsi terlalu banyak makanan berkadar garam tinggi, jaringan sel dan jaringan antar selnya akan mengandung banyak air. Hal inidapat menyebabkan terjadinya pembengkakan tubuh yang disebut edema.
Sarkar & Devi (2006) Hemolisis secara langsung tidak dibutuhkan penambahan lesitin sedangkan hemolisis tidak langsung kehadiran lesitin pada sel darah merah atau penambahan dari luar sangat diperlukan.Secara umum, mekanisme hemolisis berlangsung dua tahap. Tahap pertama lesitin dalam sel darah atau yang ditambahkan dari luar akan diubah menjadi lisolesitin oleh lesithinase A.  Lisolesitin merupakan bentuk lesitin yang  memiliki aktivitas hemolitik. Selanjutnya, lisolesitin menyebabkan sel darah merah lisis dengan menyerap material lemak dinding sel  sehingga merusak keutuhan struktur sel darah.
        Srikini (2000) Sel darah merah yang berada di luar cairannya dapat mempertahankan bentuknya apabila dimasukkan dalam cairan yang isotonis dengan sitoplasmanya. Apabila sel darah merah berada di dalam cairan yang hipertonis maka sel darah merah akan mengalami pengerutan (krenasi), apabila sel darah merah berada dalam cairan yang bersifat hipotonis maka sel akan pecah dan hemoglobin akan ke luar (hemolisis).
            (Watson, 2007) Hemolisis adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah menuju cairan disekelilingnya, keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya membran sel darah merah. Membran sel darah termasuk membran yang permeabel selektif. Membran sel darah merah mudah dilalui atau ditembus oleh ion-ion H+, OH-, NH4+, PO4, HCO3-, Cl-, dan substansi seperti glukosa, asam amino, urea, dan asam urat. Sebaliknya sel darah merah tidak dapat ditembus oleh Na+, K+, Ca2+, Mg2+, fosfat organik, hemoglobin dan protein plasma.
        (Wulangi, 2009) Ada dua macam hemolisis yaitu hemolisis osmotik yang terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara tekanan osmosa cairan didalam sel darah merah dengan cairan yang berada disekeliling sel darah merah. Tekanan osmosa sel darah merah adalah sama dengan osmosa larutan NaCl 0, 9 %, bila sel darah merah dimasukkan kedalam larutan NaCl 0, 65 % belum terlihat adanya hemolisa, tetapi sel darah merah yang dimasukkan kedalam larutan NaCl 0, 45 % hanya sebagian saja dari sel darah merah yang mengalami hemolisis dan sebagian lagi sel darah merahnya masih utuh. Perbedaan ini desebabkan karena umur sel darah merah yang sudah tua, membran sel mudah pecah, sedangkan se darah merah yang muda, membran selnya masih kuat. Bila sel darah merah dimasukkan kedalam laritan NaCl 0,25 %, semua sel darh merah akan mengalami hemolisa sempurna. Yang kedua, hemolisis kimiawi membran sel darah merah dirusak oleh macam-macam substansi kimia. Seperti, kloroform, aseton, alkohol, benzena dan eter, substansi lain adalah bisa ular, kalajengking, dan garam empedu.





METODOLOGI PENGAMATAN
Waktu dan Tempat
Praktikum Anatomi dan Fisiologi Ternak tahun 2013 tentang Laju Endap Darah (LED) dilaksanakan pada hari Selasa, 16 April 2013 pada pukul 14.00 WIB s/d selesai, dan praktikum tentang Hemolisis dilaksanakan pada hari Selasa, 23 April 2013 pada pukul 14.00 WIB s/d selesai di Laboratorium Anatomi dan Fisiologi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jambi.

Materi
Adapun alat yang digunakan pada praktikum Laju Endap Darah (LED) adalah Tabung Wastergreen dan raknya. Sedangkan pada praktikum Hemolisis yang digunakan antara lain Tabung reaksi (10 buah), objek glass, cover glass, pipet Pasteur, dan mikroskop.
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum Laju Endap Darah (LED) adalah darah sapi, kambing, dan ayam yang sudah diberi antikoagulan. Sedangkan pada praktikum Hemolisis bahan yang digunakan adalah Larutan NaCl dengan konsentrasi 0,9 %, 0,65 %, 0,45 %, 0,25 %, dan 3,0 % .

Metoda
Adapun metoda pada praktikum Laju Endap darah adalah Sampel darah dihisap dengan tabung Wastergreen sampai angka 0. Kemudian tegakkan pada rak. Tiap 30 menit catat penurunan dari sel-sel darahnya. Buatlah grafik LED dari 0-90 menit.
Sedangkan metoda pada praktikum Hemolisis ialah 10 tabung reaksi dan beri label, isi 10 tabung tersebut masing-masing 5ml larutan tersebut, lalu masing-masing tuangi 3 tetes darah sapi dan biarkan selama 10 menit, periksa/amati warna dan kekeruhan larutan di dalam tabung. Warna merah cerah menunjukan adanya hemolysis. Warna keruh belum tentu terjadi perubahan.Kemungkinan sebagian sel mengalami hemolysis atau perubahan lainnya.Untuk memastikan terjadinya hemolysis atau perubahan dilakukan secara mikroskopis.
Cara pemeriksaan secara mikroskopis adalah sebagai berikut ; Pada gelas objek sebelah kiri ditetes larutan dari tabung pertama yang berisi larutan NaCl 0,9% sebagai control (pembanding), bagian kiri kanan teteskan larutan tabung kedua, tutup dengan cover glass. Periksa dengan menggunakan mikroskop dengan perbesaran 10x dan 40x. lakukan hal yang sama untuk tabung lainnya dengan menggunakan larutan dari tabung pertama sebagai control.
Pencatatan hasil pengamatan pada tabel sebagai berikut : Pada pemeriksaan mikroskopis, tuliskan tanda (+) bila terlihat jelas adanya hemolysis (larutan dalam tabung berwarna merah cerah) dan tanda (+)  bila belum terlihat adanya hemolysis (larutan dalam tabung berwarna keruh).
Pada pemeriksaan mikroskopis, tuliskan pada kolom bentuk sel bulat licin atau bulat bergerigi, atau bentuk lainnya, pada kolom besasr bandingkan dengan control (tabung 1) tulis tanda (=) apabila besarnya sama dengan control, tanda (>) apabila lebih besar, dan tanda (<) apabila kecil. Untuk jumlahnya relative sama banyak dengan control, tanda (>) apabila relative lebih banyak dan tanda (<) apabila relative lebih sedikit.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Laju Endap Darah
Laju Endap Darah ditentukan dengan mengukur jarak dalam mm yang ditempuh dalam satuan waktu tertentu oleh lapisan teratas yang berada di dalam tabung-tabung standar yang ditempatkan dalam posisi vertical. LED dapat dipengaruhi oleh beberapa factor antara lain perubahan komposisi plasma darah (kekentalan/viskositas plasma), jumlah sel darah merah dan tegangan permukaan. (Widodo, 2004) Laju endap darah yang ditemukan pertama kali oleh Westergren pada tahun 1921. LED merupakan pemerikksaan yang menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dengan plasma.
Pada praktikum in menggunakan metode Wastergreen. (Riswanto, 2009) Metode yang digunakan untuk pemeriksaan LED ada dua, yaitu metode Wintrobe dan Westergreen. Hasil pemeriksaan LED dengan menggunakan kedua metode tersebut sebenarnya tidak seberapa selisihnya jika nilai LED masih dalam batas normal. Tetapi jika nilai LED meningkat, maka hasil pemeriksaan dengan metode Wintrobe kurang menyakinkan. Dengan metode Westergreen bisa didapat nilai yang lebih tinggi, hal itu disebabkan panjang pipet Westergreen yang dua kali panjang pipet Wintrobe. Kenyataan inilah yang menyebabkan para klinisi lebih menyukai metode Westergreen daribada metode Wintrobe. Selain itu, International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen.

Tabel 1. LED Ayam
Jenis Hewan/ Ternak

Waktu

30 menit
60 menit
90 menit
Ayam
3 mm
2 mm
2 mm


Grafik LED Pada Ayam
    

Laju Endap Darah ayam pada 30 menit pertama menunjukkan penurunan 3 mm, pada waktu 60 menit turun menjadi 2 mm, dan pada waktu 90 menit tidak terjadi penurunan (konstan) tetap 2 mm. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi darah masih cukup baik dikarenakan penurunan pada LED relatif kecil. Hal ini di dukung oleh pendapat (Barbara, 2006) Darah normal mempunyai LED relatif kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi di imbagi oleh tekanan keatas akibat perpindahan. Bila viskositas plasma tinggi atau kadar kolesterol meningkat tekanan keatas mungkin dapat menetralisasi tarikan kebawa terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya setiap keadaan yang meningkatkan penggumpalan atau perletakan satu dengan yang lain akan meningkatkan LED.


Tabel 2. LED Kambing
Jenis Hewan/ Ternak

Waktu

30 menit
60 menit
90 menit
Kambing
10 mm
0,5 mm
0,5 mm


Grafik LED Pada Kambing
              
Laju Endap Darah ayam pada 30 menit pertama menunjukkan penurunan 10 mm, pada waktu 60 menit turun menjadi 0,5 mm, dan pada waktu 90 menit tidak terjadi penurunan (konstan) tetap 0,5.
            (Isbister, 2000) Penentuan nilai LED secara umum telah digunakan dalam pengobatan klinik, menegakkan diagnosis, mengetahui penyakit secara dini dan memantau perjalanan penyakit seperti tuberkolosa dan reumati. Peningkatan kecepata pengendapan berhubungan langsung dengan beratnya penyakit.

Tabel 3. LED Sapi
Jenis Hewan/ Ternak

Waktu

30 menit
60 menit
90 menit
Sapi
32 mm
7 mm
4 mm
                           



Grafik LED Pada Sapi

Laju Endap Darah ayam pada 30 menit pertama menunjukkan penurunan 32 mm, pada waktu 60 menit turun menjadi 7 mm, dan pada waktu 90 menit terjadi penurunan menjadi 4 mm. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi darah pada ternak tidak baik. Hal ini bertentangan dengan pendapat (Barbara, 2006) Darah normal mempunyai LED relatif kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi di imbagi oleh tekanan keatas akibat perpindahan. Bila viskositas plasma tinggi atau kadar kolesterol meningkat tekanan keatas mungkin dapat menetralisasi tarikan kebawa terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya setiap keadaan yang meningkatkan penggumpalan atau perletakan satu dengan yang lain akan meningkatkan LED.
            (Widodo,  dkk, 2004) Prinsip dasar pemeriksaan LED adalah; darah dan antikoagulan dimasukkan ke dalam tabung dengan lubang ukuran tertentu (pada pipet LED) dan diletakan vertikal akan menyebabkan pengendapan eritrosit dengan kecepatan tertentu. LED merupakan kecepatan pengendapan dengan  mengukur jarak antara miniscus pemeriksaan LED. Beberapa faktor  yang mempengaruhi LED, yang dapat meningkatkan LED adalah usia tua, wanita, saat mensturasi, kehamilan, ukuran eritrosit (macrositosis), faktor teknis (masalah pengenceran, suhu ruangan/panas, kemiringan tabung LED) , peningkatan fibrinogen (pada beberapa kasus infeksi, inflamasi, dan keganasan). Faktor yang dapat menurunkan LED adalah lekositosis berat, polisitemia, speherositosis (acantositosis, micrositpsis ), faktor teknis (masala pengenceran, darah beku, tabung penden, getaran), abnormalitas protein (hipofibrinogenemia, hipogammaglobulinnemia, dispoteinemia). Faktor yang belum pasti mempengaruhi LED adalah obesitas, suhu badan, dan usai mengkomsumsi aspirin.
(Tambayong J, 2000) LED adalah kecepatan eritrosit mengendap dalam pipet westergren. Pada peradangan, kecepatan meningkat, karena perubahan pada komponen plasma yang terjadi selama proses inflamasi. Protein plasma yang terlibat dalam peningkatan LED disebut protein fase akut, terutama dilepaskan oleh hati. LED khususnya digunakan untuk membantu aktivitas berbagai penyakit inflamasi.
 (Widodo, 2004) Laju endap darah yang ditemukan pertama kali oleh Westergren pada tahun 1921. LED merupakan pemerikksaan yang menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dengan plasma. 

HEMOLISIS
Cormack. (2008) mengatakan bahwa Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat disebabkan karena penurunan tegangan permukaan membrane sel dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular  famili Elapidae.
Di bawah ini adalah hasil pengamatan Hemolisis secara Makroskopis dengan hasil yang berbeda-beda.

Tabel 4. Hasil Pengamatan Hemolisis Darah Sapi
Nomor
Tabung
Konsentrasi NaCl
Makroskopis
(hemolisis)


1 s
0,25 %
+

2 s
0,45 %
+

3 s
0,65 %
-

4 s
0,9 %
-

5 s
3,0 %
-


Dari data diatas dapat dilihat, konsentrasi darah sapi konsentrasi ( 0,25 % dan 0,45 % ) mengalami hemolisis (+), sedangkan konsentrasi dari ( 0.65 % – 3.0 % ) terjadi kekeruhan pada warnanya (-) atau tidak ada terjadi hemolisis. Untuk menentukan bentuk, nilai dan jumlah relatifnya digunakan 0,45 % sebagai pembanding dari seluruh konsentrasi tersebut  . (Wulangi, 2009) Ada dua macam hemolisis yaitu hemolisis osmotik yang terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara tekanan osmosa cairan didalam sel darah merah dengan cairan yang berada disekeliling sel darah merah. Tekanan osmosa sel darah merah adalah sama dengan osmosa larutan NaCl 0, 9 %, bila sel darah merah dimasukkan kedalam larutan NaCl 0, 65 % belum terlihat adanya hemolisa, tetapi sel darah merah yang dimasukkan kedalam larutan NaCl 0, 45 % hanya sebagian saja dari sel darah merah yang mengalami hemolisis dan sebagian lagi sel darah merahnya masih utuh. Perbedaan ini desebabkan karena umur sel darah merah yang sudah tua, membran sel mudah pecah, sedangkan se darah merah yang muda, membran selnya masih kuat. Bila sel darah merah dimasukkan kedalam laritan NaCl 0,25 %, semua sel darh merah akan mengalami hemolisa sempurna. Yang kedua, hemolisis kimiawi membran sel darah merah dirusak oleh macam-macam substansi kimia. Seperti, kloroform, aseton, alkohol, benzena dan eter, substansi lain adalah bisa ular, kalajengking, dan garam empedu.
Pada Tabung pertama menunjukan terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,25% , Tabung kedua menunjukan terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,45%, Tabung ketiga menunjukan tidak terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,65%, Tabung keempat menunjukan tidak terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,9% dan pada Tabung kelima menunjukan tidak terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 3,0%.

Tabel 5. Hasil Pengamatan Hemolisis Darah Ayam
Nomor
Tabung
Konsentrasi NaCl
Makroskopis
(hemolisis)


1 a
0,25 %
+

2 a
0,45 %
-

3 a
0,65 %
-

4 a
0,9 %
-

5 a
3,0 %
-


Pada Tabung pertama menunjukan terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,25%,  Tabung kedua menunjukan tidak terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,45%, Tabung ketiga menunjukan tidak terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,65%. Tabung keempat menunjukan tidak terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,9%. Tabung kelima menunjukan tidak terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 3,0%.
              Dari darah ayam dapat diketahui bahwa ada konsentrasi atau terjadinya hemolisis dan ada juga yang tidak terjadi hemolisis.        
Dari data yang tertera pada tabel diatas dapat diketahui bahwa telah terjadi hemolisis.dengan dibuktikan adanya larutan yang berwarna lebih merah dari yang lainnya, hal tersebut terjadi karena hemoglobin yang ada pada eritrosit tersebut keluar ke media disekelilingnya yang diakibatkan pecahnya plasma darah, hal tersebut sesuai dengan pendapat dari( Anonim, 2008 ) yang menyatakan Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma). (Anonim ) menyatakan juga bahwa Jika phi cairan < phi darah, maka cairan bersifat hipotonik terhadap plasma darah. Hal ini menyebabkan net aliran pelarut air dari cairan ke plasma darah. Akibatnya sel darah merah akan mengembang dan dapat pecah ( F. D. Frandson.2000)  Adanya hemoglobin dalam darah menimbulkan timbulnya warna merah dalam darah dan hemoglobin tersebut merupakan suatu senyawa organik yang kompleks yang terdiri dari empat pigmen porfirin merah.



Tabel 6. Hasil Pengamatan Hemolisis Darah Kambing
Nomor
Tabung
Konsentrasi NaCl
Makroskopis
(hemolisis)


1 k
0,25 %
+

2 k
0,45 %
+

3 k
0,65 %
+

4 k
0,9 %
-

5 k
3,0 %
-


Pada Tabung pertama menunjukan terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,25%, Tabung kedua menunjukan terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,45%, Tabung ketiga menunjukan terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,65%, Tabung keempat menunjukan tidak terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 0,9% dan pada Tabung kelima menunjukan tidak terjadinya hemolisis dengan konsentrasi NaCl 3,0%.
Srikini (2000) Sel darah merah yang berada di luar cairannya dapat mempertahankan bentuknya apabila dimasukkan dalam cairan yang isotonis dengan sitoplasmanya. Apabila sel darah merah berada di dalam cairan yang hipertonis maka sel darah merah akan mengalami pengerutan (krenasi), apabila sel darah merah berada dalam cairan yang bersifat hipotonis maka sel akan pecah dan hemoglobin akan ke luar (hemolisis).
            (Watson, 2007) Hemolisis adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah menuju cairan disekelilingnya, keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya membran sel darah merah. Membran sel darah termasuk membran yang permeabel selektif. Membran sel darah merah mudah dilalui atau ditembus oleh ion-ion H+, OH-, NH4+, PO4, HCO3-, Cl-, dan substansi seperti glukosa, asam amino, urea, dan asam urat. Sebaliknya sel darah merah tidak dapat ditembus oleh Na+, K+, Ca2+, Mg2+, fosfat organik, hemoglobin dan protein plasma.
PENUTUP
Kesimpulan
Darah normal mempunyai LED relatif kecil karena pengendapan eritrosit akibat tarikan gravitasi di imbagi oleh tekanan keatas akibat perpindahan. Bila viskositas plasma tinggi atau kadar kolesterol meningkat tekanan keatas mungkin dapat menetralisasi tarikan kebawa terhadap setiap sel atau gumpalan sel. Sebaliknya setiap keadaan yang meningkatkan penggumpalan atau perletakan satu dengan yang lain akan meningkatkan LED. Darah pada dasarnya memiliki ketahanan terhadap berbagai tekanan. Namun tidak semua tekanan dapat ditahan dan tak mempengaruhinya, hal ini dibuktikan dengan praktikum yang kami laksanakan membuktikan bahwa darah tidak tahan terhadap keadaan yang hhipotonis yaitu keadaan disekitar darah merah berada dalam tekanan yang sangat rendah sehingga terjadinya penyerapan kedalam dan mengakibatkan membran plasma mengembang dan akhirnya pecah.

Saran
Selama praktikum berlangsung, sebaiknya praktikan harus berhati-hati dan teliti pada saat melakukan pengamatan, dan juga memperhatikan saat asdos menerangkan agar mudah memahami apa yang disampaikan. Praktikan harus menjaga ketenangan pada saat praktikum berlangsung, agar suasana praktikum jadi nyaman.





DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1989. Hematologi Jilid 1. PUSDIKNAKES, Jakarta.
Bakta, 2003. Hematologi Klinik Ringkas. Penerbit Buku Kedokteran Elic, Jakarta.
Barbara A. B, 2006. Hematologi: Principle dan Procedures. LEA dan REB.
Gandasoebrata R, 1999. Penuntun Laboratorium klinik. Penerbit Duan Rakyat. Jakarta.
Hamurwono GB, 2003. Pedoman Pelayanan Teransfusi Darah. Direktur Pelayanan Meddik Dasar. Jakarta.
Hardjoene, 2000. Interpretasi Hasil Laboratorium Diagnostik. Penerbit Buku Unervitas Hasanuddin, Makassar.
Isbister J. P,2000. Hematologi Klinik Pendekatan Berorientasi Masalah. Editor Kartini Agnes dkk, Penerbit Hipokrates, Jakarta.
Nasir, N, 2006. Usulan Penelitian, Program Studi Analisis Kesehatan. Politeknik Kesehatan Makassar.     
Sacher RA dan McPherson RA, 2004. Tinjauan Klinik Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi 11, EGC. Jakarta.
Simmons A, 1989. Hematologi A Combined Theoritical and Technical Upproach. W.B. sounders Company.
Sahabuddin, 2005. Usulan Penelitian, Program Studi Analis Kesehatan. Politeknik Kesehatan Makassar.
Subama, 1996. Diklat Hematologi. Akademi Analis Kesehatan Depkes Bandung.
Widodo, Herdiman. P, 2004 Bunga Rampai Penyakit Infeksi, FKUI Jakarta.     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar