: http://i1122.photobucket.com/albums/l524/riyosuke/tail2.gif

Jumat, 17 Mei 2013



LAPORAN SEMESTER PRAKTIKUM
BIOKIMIA
OLEH:
C.2
EKA SETIAWAN
E10012135
RINA TISMAN
E10012128
JAHTERA MANALU
E10012132
AGUSTIN WULANDARI
E10012126
M.RASYID RIDHO
E10012110
RIYAN SAPUTRA
E10012138
DANANG DWILINGGA
E1001212
DESTI ANGRAINI
E10012099


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2013


KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan Rahmat dan HidayahNya penulis dapat menyelesaikan Laporan Semester Biokimia  ini dengan tepat waktu.
Laporan praktikum ini penulis susun sebagai wujud realisasi dari hasil pengamatan yang telah penulis lakukan sebelumnya dan juga sebagai bahan pelengkap persyaratan yang menunjang mata kuliah Biokimia . Laporan ini penulis susun khususnya untuk lingkup Fakultas Peternakan Unja, akan tetapi tidak menutup untuk keperluan atau lingkup yang lebih luas.
  Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, penulis telah berusaha dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga dapat selesai dengan baik. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan laporan-laporan praktikum penulis selanjutnya. Semoga laporan ini bisa bermanfaat bagi kita semua, amin.

                                                                                     
         Jambi,  Mei2013
                                                                                                         Penulis


DAFTAR ISI
                                                                                                                Halaman
KATA PENGANTAR………………………….…………………..                        i
DAFTAR  ISI………………………………………………………             ii
PENDAHULUAN…………………………………………………             1
Latar Belakang…………………………………………......              1
Tujuan dan Manfaat………………………………………..              2
TINJAUAN PUSTAKA…………………………………………...             3
MATERI DAN METODA………..……………………………….             5
Waktu dan Tempat…………………………………………             8
Materi……………………………………………………………      8
Metoda……………………………………………………..              9
HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………             11
PENUTUP…………………………………………………………              23
Kesimpulan…………………………………………………             23
Saran………………………………………………………..             23
DAFTAR PUSTAKA


















PENDAHULUAN
Latar Belakang
Biokimia adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang proses kimia atau reaksi kimia yang terjadi di dalam zat hidup (sel hidup, makhluk hidup), baik itu mokroorganisme, tanaman, invertebrata avertebrata, hewan menyusui dan manusia. Dalam hal ini, dapat kita ketahui bagaimana kumpulan zat hidup bercampur atau bereaksi menghasilkan zat. yang disebut dengan zat hidup. Dan peranan biokimia ini adalah sebagai dasar pengembangan pengetahuan dasar kedokteran, pertanian, peternakan, biologi, mikrobiologi, dan yang lainnya, yang erat hubungannya.
Kegiatan praktikum Biokimia Dasar merupakan komponen penunjang aktivitas perkuliahan. Latar belakang diadakannya praktikum tersebut agar mahasiswa dapat mengetahui dan mengenal apa-apa saja yang dipelajari di dalam mata kuliah Biokimia ini. Mulai dari Protein dan Asam amino, Karbohidrat, Lipida sampai dengan Enzim.

Tujuan dan Manfaat
Tujuan
Tujuan dalam melakukan praktikum Biokimia dasar adalah untuk mengetahui gambaran yang lebih jelas tentang jalannya reaksi-reaksi kimia dalam proses kehidupan, begitu pula mengenai prinsip-prinsip biokomia serta cara kerja atau metode dalam biokimia. Agar mahasiswa mengetahui beberapa komponen yang terdapat didalam tubuh, seperti Protein , karbohidrat, lipida, dan enzim serta bagaimana reaksinya pada setiap percobaan yang dilakukan.

Manfaat
Manfaat yang dapat kita peroleh dari praktikum ini adalah dengan adanya hasil dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat digunakan sebagi titik acuan dan bahan perbandingan didalam menjawab segala permasalahan tentang pengujian dari bagian-bagian Biokimia Dasar tersebut, serta masukan bagi kita semua di dalam mata kuliah biokimia tersebut, dan menjadi syarat di dalam memenuhi tugas praktikum dan mata kuliah biokimia dasar ini. Serta dari praktikum ini kita dapat mengetahui tekhnik atau cara dalan melakukan pengukuran larutan. Selain itu juga dapat mengenal alat-alat yang digunakan di iaboratorium ini beserta fungsi alat tersebut.



TINJAUAN PUSTAKA
PROTEIN DAN ASAM AMINO
Abas(2000) Semua asam amino, atau peptida yang mengandung 2 amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksi prolin menghasilkan senyawa berwarna kuning.
Anwar M (2001), bahwa asam amino merupakan satuan penyusun protein, berdasarkan rumus bangunnya asam amino dapat dipandang sebagai turunan asam karboksilat, yang satu atom hidrogennya digantikan oleh gugus amino.
Argham(2001) Kelarutan protein didalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya.
Conway (2007),Pada percobaan ninhidrin didapat hasil yaitu asam amino berupa ahnin setelah di panaskan  dengan campuran ninhidrin pada penangas air warnanya berubah menjadi biru pekat. Hal ini juga disesuaikan dengan pendapat yang menyatakan bahwa asam amino yang dipisahkan direaksikan dengan ninhidrin untuk mengahsilkan warna biru – ungu.
Jaru Anwar (2001), menyatakan bahwa asam amino adalah senyawa anorganik yang mengandung gugus karboksil dengan demikian mempunyai sifat asam-basa.
Novita (2009) uji ninhidrin adalah uji umum untuk protein dan asam amino .Ninhidrin  dapat mengubah asam amino menjadi suatu alhdehida.
(Poedjiadi 2004), Kelarutan protein di dalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya.Protein seperti asam amino bebas memiliki titik isoelektrik yang berbeda-beda.
(Rahani,2002),Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut.Namun, semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform.
Riawan (2000) protein memiliki molekul besar dengan berat molekul yang bervariasi antara  5000 hingga jutaaan dengan hidrolisis oleh asam atau oleh enzim protein akan mengahasilkan asam amino, ada 20 jenis asam amino yang terdapat pada molekul protein.
Santoso (2008) yang menyatakan bahwa ninhidrin bereaksi dengan asam amino bebas dan protein menghasilkan warna biru.

KARBOHIDRAT
Nuryani (2000), yang menyatakan bahwa apabila beberapa monosakarida seperti glukosa fruktosa dan manosa diragikan maka akan terbentuk etil alcohol dan CO2.
Montgomery (2001), menyatakan bahwa ekstrak ragi (bebassel) mempunyai kemampuan untuk mengubah glukosa menjadi etanol.
Rahman (2002) yang menyatakan bahwa fermentasi mediun cair lebih memungkinkan untuk mengendalikan faktor – factor fisik dan kimia yang mempengaruhi proses fermentasi seperti suhu, pH dan kebutuhan oksigen.
Roogers (2003), meyatakan bahwa apabila asam sulfat (K2SO4) pekatakan menghidrolisis ikatan glikosida (daripolisakarida) maka akan dihasilkan monosakarida yang serlanjutnya terjadi dehidrasi menjadi furfural dan turunanya.
Reinhard (2009), menyatakan bahwa apabila HCI (asamklorida) pekat direasikan dengan gula dan ditambahkan sedikit resorsional maka menghasilkan 4-hidroksi metil furfuran berwama merah).
Wiliam (2007), Karbohidrat (monosakarisa) yang penyusun utamanya adalah glukosa, lalu dioksidasi menjadi CO2 dan H2O, kemudian diubah menjadi monosakarida, disakarida, poligosakarida, ketiganya disebut Heksosa.
Werry(2006), Karbohidrat terhidrolisis oleh enzim dan oleh karenanya pencernan karbohidrat diabsorvasi sebaagai monosakarida, didalam hati, fruktosa dan glukosa diubah menjadi glukosa.

LIPIDA
(Alfi Darwis, 2011) Kelompok-kelompok besar dari lipid mempunyai sifat kelarutan yang berbeda-beda dan sifat ini dugunakan untuk ektraksi dan pemisahan dari bahan biologis. Endapan yang terjadi adalah lesitin(fosfolipid). Lesitin atau fosfatidilkolin adalah senyawa fosfogliserol yang mengandung kolin (lesitin mengandung gliserol, asam lemak, asam fosfat, dan kolin). Senyawa ini adalah fosfolipid kolin terdapat dengan jumlah terbanyak di dalam membran sel dan menunjukkan proporsi simpanan kolin yang besar pada tubuh. Kolin sangat penting dalam proses transmisi saraf dan sebagai simpanan, gugus metil yang labil. Lesitin dapat diperoleh dari kuning telur. Pemisahan fosfatidilkolin dari lemak dan kolesterol dilakukan dengan pelarut eter dan aseton. Lesitin memiliki gugus kolin yang bermuatan positif sehingga lebih larut dalam eter dan kurang larut dalam aseton. Hal ini disebabkan eter memiliki elektron bebas yang dapat diserang oleh muatan positif dari kolin sehingga kolin lebih larut dalam eter daripada aseton yang tidak memiliki elektron bebas. Filtrat yang diperoleh dari penyaringan lesitin (eter-aseton) diuapkan diatas waterbath hingga menghasilkan suatu pasta.
(Murray 2006) Lemak lebih banyak ditemukan pada hewan, dan minyak lebih banyak diperoleh dari tumbuh- tumbuhan. Lipid digolongkan kedalam lipid sederhana dan lipid majemuk. Lipid sederhana contohnya adalah lemak, minyak, dan lilin atau wax. Sedangkan lemak majemuk contohnya seperti fosfolipid, sfingolipid, lipoprotein, dan isoprenoid.
            (Priadi 2009) Lipid atau masyarakat sering menganggapnya sebagai lemak adalah senyawa organik yang tidak dapat larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik (nonpolar), seperti: kloroform, eter, dan minyak tanah. Molekul lemak tersusun dari unsur-unsur C, H, O, dan terkadang terdapat unsur P dan N. Lemak umumnya disusun oleh trigliserida (lemak netral) yang terdiri atas gliserol dan tiga asam lemak. Berdasarkan tingkat kejenuhannya, asam lemak dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak jenuh adalah asam lemak yang tidak mengandung ikatan rangkap. Misalnya asam palmitat dan asam stearat yang terdapat pada lemak hewani. Sedangkan asam lemak tak jenuh adalah asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang mengandung ikatan rangkap. Misalnya, asam oleat dan asam linoleat yang terdapat pada lemak nabati.
 (Roswiem 2006) Kolesterol adalah salah satu jenis lipid yang digolongkan ke dalam isoprenoid yang merupakan jenis steroid. Kolesterol adalah molekul penting pada hewan yang berfungsi sebagai komponen membran sel, prekursor biosintesis hormon steroid, Vitamin D, dan garam empedu. Kolesterol mempunyai 2 gugus metil yang terikat pada atom C-13 dan C-10 dengan ikatan rangkap. Rantai cabang hidrokarbon terikat pada atom C-17, sedangkan gugus fungsionil hidroksil terletak pada atom C-3. Kolesterol disimpan di dalam sel sebagai ester asam lemak yang dihasilkan dari reaksi esterifikasi oleh enzim asetil KoA: Kolesterol asiltransferase (ACAT) di sitoplasma.
 (Salirawati et al,2007) Lipid adalah  senyawa yang merupakan ester dari asam lemak dengan gliserol yang kadang-kadang mengandung gugus lain. Lipid tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic se[erti eter, aseton, kloroform, dan benzene.
(Salirawati et al,2007) Lemak digolongkan berdasarkan kejenuhan ikatan pada asam lemaknya. Adapun penggolongannya adalah asam lemak jenuh dan tak jenuh.
(Sunita, Almatsier. 2005). Istilah lipida meliputi senyawa-senyawa heterogen, termasuk lemak dan minyak yang umumnya dikenal dalam makanan, malam, fosfolipida, sterol, dan ikatan lain sejenis yang terdapat di dalam makanan dan tubuh manusia. Lipida mempunyai sifat yang sama yaitu larut dalam pelarut nonpolar seperti etanol, eter, kloroform, dan benzena.
(Syamsu 2007) HCl yang ditambahkan akan menyumbangkan ion-ion hidrogennya yang dapat memecah unsur lemak sehingga terbentuk lemak radikal bebas dan hidrogen radikal bebas. Kedua bentuk radikal ini bersifat sangat reaktif dan pada tahap akhir oksidasi akan dihasilkan peroksida.


ENZIM
Jameso Brends (2000), menyatakan bahwa enzim sebagai katalisator karena enzirn sebagai suatu zat yang dapat mempercepat reaksi kimia tanpa ikut atau muncul dalam hasil reaksi.
Jhonson (2002), menyatakan bahwa enzim yang berperan dalam ekstraksi minyak kelapa adalah enzim yang menghidrolisis makro molekul karbohidrat dan protein (proteolitik).
Reybred (2003), menyatakan bahwa enzim merupakan biokatalisator dengan spesifisitas dan efisiensi tinggi.
Stone (2003), menyatakan bahwa keuntungan memproduksi enzim dari mikroba antara lain biaya produksi lebih rendah dapat diproduksi dalam waktu singkat serta mudah dikontrol.
Vones (2002), menyatakan bahwa aktivitas spesifik enzim merupakan parameter reaksi enzim yang dapat mengambarkan daya kerja enzim yang bersangkutan.
Wandi (2003), menyatakan bahwa hal yang perlu diperhatikan karena enzim merupakan protein biokatalisator yaitu daya tahan pada pH, suhu, dan lingkungan lain dengan kisaran yang tidak terlalu besar sehingga pemakaian buffer dan pemilihan faktor lingkungan yang tepat penting diperhatikan.
Wibowo (2001), yang menyatakan bahwa pada penambahan getah buah pepaya muda dengan krim santan kelapa jika dicampur antara yang dengan yang lain maka dari warna rasa dan baunya akan jauh berubah dari awalnya.


MATERI DAN METODA
Waktu dan tempat
Kegiatan praktikum ini dilaksanakan setiap hari Kamis mulai Tanggal 28 Maret sampai 18 April 2013, pada pukul 15.00 WIB s/d selesai di Laboratorium Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Jambi.

Materi
Adapun materi yang di praktikumkan adalah Protein dan Asam Amino, Karbohidrat, Lipida, dan Enzim. Alat yang di gunakan adalah tabung reaksi , beker gelas , batang pengaduk, pipet,  gelas ukur , erlemeyer , penangas air dan penjepit tabung reaksi, Pemarut kelapa, neraca analitik, beker glass (1000 mL, 500 mL, 250 mL,100 mL), gelas ukur ( 50 mL, dan 100 mL), selang plastik, Erlenmeyer, corong, Thermometer, botol inkubasi, pipet tetes, pipet takar, Sentrifugasi, Water bath, kantong plastik, dan karet gelang. Larutan monosakarida,ragi (yeast) , NaOH , aquades asam sulfat pekat , alfanaftol.
Adapun Bahan yang digunakan pada praktikum adalah  HCL, NaOH, Aquades (masing-masing  5 ml ). Asam-asam amino (glisin, histidin, dan tirosin) masing-masing 0,2 g. Asam-asam amino ( glisin, tirosin , histidin) dalam bentuk cair masing-masing 2 mL, ninhidrin (2 g/1), asam stearat, lemak dan minyak, fosfolipida, kolesterol, pelarut, minyak paraffin, minyak kelapa, HCl encer, kolesterol, dan soda, krim santan kelapa, getah buah pepaya yang masih muda ( umur 2-3 bulan), aquades, alkohol ( 70% dan 90 %), fenolftalien, NaOH (0,1 N standar), dan KOH 0,1 N standar), Danalat yang di gunakanadalahtabungreaks , tabungfermentasi , pipet tetes ,penangas  air.




Metoda
PROTEIN DAN ASAM AMINO
Adapun metoda yang di gunakan dalam praktikum pelarutan asam amino adalah pertama siapkan 4 buah tabung reaksi yang di isi pelarut dengan HCL , NaOH, etanol , aquades (masing-masing 5 ml). Kedua  larutkan 0,2 g asam amino ke dalam masing-masing pelarut tersebut, gunakan pengaduk bila perlu, yang ketiga catat bagaimana  hasilnya dan bagaimana kesimpulan saudara.
Adapun metoda yang di gunakan dalam praktikum uji ninhidrin adalah pertama masukkan 2 ml asam amino yang akan di identifikasi ke dalam tabung reaksi dengan PH netral, kedua tambahkan pereaksi ninhidrin ,ketiga didihkan selama 2 menit dalam penangas air, dan ke empat amati warna hasil reaksi dan simpulkan hasil pengamatan anda.

LIPIDA
Adapun metoda yang digunakan pada daya kelarutan lipida adalah pertama, periksalah larutan lipida dan asam-asam lemak dalam air dan pelarut-pelarut diatas, catat perbedaan diantara gugus-gugus utama lipida. Kedua, teteskan 1 tetes larutan lipida diatas pada kertas saring dan biarkan kering. Amati pembentukan suatu noda lemak yang jernih. Ketiga, masukkan 1 mL air, tambahkan lipida yang telah dilarutkan dalam etanol kedalam tabung reaksi. Catat penampakan larutan segera setelah pencampuran dan setelah dibiarkan beberapa menit. Terakhir,  masukkan air 3 ml kedalam 2 tabung reaksi, tambahkan 2 tetes minyak sayur (olive) kedalam 2 tabung reaksi tersebut. Tambahkan lagi larutan lesitin kedalam salah satu tabung reaksi, dan minyak sayur kedalam tabung reaksi yang lain. Kocok campuran dengan baik dan bandingkan stabilitas emulsi yang terbentuk.



ENZIM
Adapun metoda yang digunakan pada praktikum enzim antara lain pada penyediaan getah buah pepaya muda yaitu pertama buah pepaya muda ditorehkan dengan alat tahan karat (pisau carter) yang terlebih datrulu diolesi atau disterilkan dengan alkohol 70 % dan dipijarkan pada nyala bunseru getah yang keluar ditampung sesuai dengan kebutuhan.
Pada penyedian getah buah pepaya pada krim santan kelapa yaitu pertama kedalam 100 ml krim santan kelapa ditambahakan 3 ml getah buah papaya kedalam botol inkubasi. Botol-botol ini lalu diinkubasikan ke dalam inkobator pada suhu kamar. Bersihkan semua peralatan yang digunakan dan meja kerja saudara dengan alkohol 70% srrat akan melakukan percobaan dan lakukan juga perlakuan tanpa penambahan getah pepaya (sebagai kontrol).















HASIL DAN PEMBAHASAN
PROTEIN DAN ASAM AMINO

Kelarutan asam amino

Hasil Praktikum
As. Amino
Aquades
HCl
NaOH
Etanol
Glisin
Larut
Larut
Larut
Tidak Larut
Histidin
Larut
Larut
Larut
Tidak Larut
Tirosin
Tidak Larut
Tidak Larut
Tidak Larut
Larut

Setelah  kegiatan praktikum di lakukan, maka di dapatkan hasil  setelah di masukkan  ke dalam reaksi ciran NaOH  di campur dengan larutan asam amino tirosin, bahwa hasilnya cairan atau larutan berwarna putih kekeruhan dan tidak semuanya larutan larut dalam larutan tersebut, sedangkan pada glisin dan Histidin larut. Hal ini sesuai dengan pendapat (Rahani,2002),Protein bersifat amfoter, yaitu dapat bereaksi dengan larutan asam dan basa. Daya larut protein berbeda di dalam air, asam, dan basa; ada yang mudah larut dan ada yang sukar larut. Namun, semua protein tidak larut dalam pelarut lemak seperti eter dan kloroform.
Penyusun protein adalah asam amino, yaitu asam organic yang mengandung gugus amino (-NH2) di samping gugus karboksitlat (-COOH),. Asam amino yang di kenal banyak sekali tetapi hanya 20 jenis yang termasuk penyusun protein alami. Hal ini sesuai dengan pendapat Anwar M (2001), bahwa asam amino merupakan satuan penyusun protein, berdasarkan rumus bangunnya asam amino dapat dipandang sebagai turunan asam karboksilat, yang satu atom hidrogennya digantikan oleh gugus amino.
Setelah melakukan percobaan pada uji kelarutan asam amino maka didapat hasilnya yaitu setelah etanol, HCl, NaOH, dan aquades dicampurkan dengan asam amino yaitu glisin ,maka senyawa pada pencampuran zat tersebut tetap seperti semula tidak ada perubahan warna tetapi pada saat asam amino diteteskan kedalam tabung yang berisi HCl, NaOH, etanol, dan aquades terjadi suatu pelarutan sehingga pencampuran kedua tersebut tampak berminyak. Itu terjadi karena adanya proses pelarutan antara larutan asam amino glisin dengan HCl, NaOH, aquades, dan etanol. Namun pada tabung hasil pencampuran air dengan glisin, permukaan larutan tersebut bahwa asam amino yang dalam larutan air akan mengion dan dapat bersifat asam dan basa berwarna biru kehijauan. Jaru Anwar (2001), menyatakan bahwa asam amino adalah senyawa anorganik yang mengandung gugus karboksil dengan demikian mempunyai sifat asam-basa.

Uji ninhidrin
Reaksi ninhidrin dapat dipakai untuk penentuan kuantitatif asam amino. Dengan memanaskan campuran asam amino dan ninhidrin, terjadilah larutan berwarna ungu yang identitasnya dapat ditentukan dengan cara spektrofotometri. Uji Ninhidrin merupakan uji warna pada protein dengan membentuk larutan berwarna ungu akibat adanya gugus  amino bebas. Semua asam amino dan peptida yang mengandung gugus α-amino bebas memberikan reaksi ninhidrin yang positif. Reaksi positif, tyrosin mengandung gugus  amino bebas, ditandai dengan warna larutan ungu setelah dipanaskan.
Uji ninhidrin

Hasil praktikum
           
As. Amino
Warna sebelum dipanaskan
Waktu
Warna setelah dipanaskan
Glisin
Ungu
1 menit 8 detik
Ungu pekat
Histidin
Ungu pekat
1 menit 2 detik
Purple
Tirosin
Bening
2 menit
Ungu tua

Setelah  kegiatan praktikum di lakukan, maka di dapatkan hasil  tentang uji ninhidrin dapat dibuktikan bahwa ninhidrin senyawa oksidator kuat bereaksi dengan triptofan dan tyrosin karena ph dari protein tersebut mencapai 4-8. Argham(2001) Kelarutan protein didalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya, pendapat ini juga didukung oleh pendapat (Poedjiadi 2004), yaitu Kelarutan protein di dalam suatu cairan, sesungguhnya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, pH, suhu, kekuatan ionik dan konstanta dielektrik pelarutnya. Protein seperti asam amino bebas memiliki titik isoelektrik yang berbeda-beda.
  Pada glisin, histidin, dan tirosin. perubahan warna yang terjadi menunjukan bahwa asam-asam amino ini bereaksi dengan ninhidrin, hal ini sesuai dengan pendapat Santoso (2008) yang menyatakan bahwa ninhidrin bereaksi dengan asam amino bebas dan protein menghasilkan warna biru. Dan juga spendapat dengan Abas(2000) Semua asam amino, atau peptida yang mengandung 2 amino bebas akan bereaksi dengan ninhidrin membentuk senyawa kompleks berwarna biru-ungu. Namun, prolin dan hidroksi prolin menghasilkan senyawa berwarna kuning.
 Reaksi yang paling umum digunakan untuk analisis kualitatif protein dan produk hasil hidroplisisnya. Reaksi ninhidrin dapat pula dilakukan terhadap urin untuk mengetahui adanya asam amino atau mengetahui adanya pelepasn protein oleh cairan tubuh.
Menurut Novita (2009) uji ninhidrin adalah uji umum untuk protein dan asam amino.Ninhidrin dapat mengubah asam amino menjadi suatu aldehida. Ninhidrin dilakukan dengan menambahkan beberapa tetes larutan ninhidrin yang terlihat tidak warna kedalam sampel, kemudian dipanaskan beberapa menit.Adanya protein ditandai dengan adanya perubahan warna ungu. Sedangkan menurut Riawan (2000) protein memiliki molekul besar dengan berat molekul yang bervariasi antara 5000 hingga jutaan dengan hidrolisis oleh asam atau oleh enzim protein akan menghasilkan asam amino, ada 20 jenis asam amino yang terdapat dalam molekul protein.
Pada percobaan ninhidrin didapat hasil yaitu asam aminon berupa glisin setelah di panaskan  dengan campuran ninhidrin pada penangas air warnanya berubah menjadi biru pekat. Hal ini juga disesuaikan dengan pendapat Conway (2007) yang menyatakan bahwa asam amino yang dipisahkan direaksikan dengan ninhidrin untuk mengahsilkan warna biru – ungu.

KARBOHIDRAT

Peragian
Setelah dilakukan percobaan maka diperoleh hasil yaitu saat glisin (warna jernih) ditambahkan ragi (putih keruh), NaOH warnanya putih pekat. Saat fruktosa ditambah ragi dan ditambah lagi dengan NaOH warna putih, jadi sedikit memudar  lama – lama ada CO2,dan bagian atasnya putih. Glisin yang cuma di tambahkan NaOH warna y berubah menjadi putih kuning dan fruktosa yang juga hanya di berikan NaOH warnanya berubah menjadi kuning bening.
            Tidak terbentuknya Co2, karena suhu atas 30 C, ragi mengendap warna larutan di bawah keruh.Sedangkan diatas bening.Hal ini tidak sesuai dengan prinsip karena adanya pengaruh suhu. Beberapa monosakarida seperti glukosa, fruktosa dan manosa yang juga disebut ”Zhimoheksosa”.
         Hal ini disesuaikan dengan pendapat Rahman (2002) yang menyatakan bahwa fermentasi mediun cair lebih memungkinkan untuk mengendalikan faktor – factor fisik dan kimia yang mempengaruhi proses fermentasi seperti suhu, pH dan kebutuhan oksigen.
Uji Molish
Sari Jeruk
Warnanya kuning tua,ketika ditambahkan alfanaftol warna tetap. Setelah ditetesi asam amino sulfat warnanya menjadi Abu-abu dan terdapat endapan.

Sari Tebu
Awalnya berwarna putih kekuningan (keruh) saat ditambahkan alfanaftol warnanya makin keruh, kemudian ditetesi asam amino sulfat maka warnanya oren jingga.


Ubi Kayu
Warnanya keruh, ditambah alfanaftol warnanya tetap ada bintik – bintik, setelah ditambah H2SO4 warnanya menjadi Unggu Ketuaan.

Santan
Awalnya berwarna putih susu,kemudian ditambah dengan alfanaftol warnanya menjadi Ungu.

LIPIDA
Lipid tidak memiliki rumus molekul yang sama, akan tetapi terdiri dari beberapa golongan yang berbeda. Berdasarkan kemiripan struktur kimia yang dimiliki, lipid dibagi menjadi beberapa golongan, yaitu Asam lemak, Lemak dan fosfolipid ( Salirawati et al,2007).

Daya kelarutan lipida
Pengamatan 1-3
Bahan yang di uji
Tekstur
Transparancy
Lebar Transparancy
Keterangan
Minyak sayur
Licin, tidak lengket
Transparan
2,6 cm
Tidak menyatu, minyak sayur berada diatas permukaan, air dibawah
Asam stearat
Licin, dingin di kulit, mudah kering, kesat
Setelah kering menggumpal, dan tidak transparan



-
Menyatu, terbentuk Kristal putih, menggumpal, suhunya agak meningkat sehingga menjadi hangat
Lesitin Telur
Kesat, sedikit lengket
Transparan
1,5 cm
Air dan lesitin menyatu dan terbentuk seperti serat-serat putih telur
           
(Alfi Darwis, 2011) Kelompok-kelompok besar dari lipid mempunyai sifat kelarutan yang berbeda-beda dan sifat ini dugunakan untuk ektraksi dan pemisahan dari bahan biologis. Endapan yang terjadi adalah lesitin(fosfolipid). Lesitin atau fosfatidilkolin adalah senyawa fosfogliserol yang mengandung kolin (lesitin mengandung gliserol, asam lemak, asam fosfat, dan kolin). Senyawa ini adalah fosfolipid kolin terdapat dengan jumlah terbanyak di dalam membran sel dan menunjukkan proporsi simpanan kolin yang besar pada tubuh. Kolin sangat penting dalam proses transmisi saraf dan sebagai simpanan, gugus metil yang labil. Lesitin dapat diperoleh dari kuning telur. Pemisahan fosfatidilkolin dari lemak dan kolesterol dilakukan dengan pelarut eter dan aseton. Lesitin memiliki gugus kolin yang bermuatan positif sehingga lebih larut dalam eter dan kurang larut dalam aseton. Hal ini disebabkan eter memiliki elektron bebas yang dapat diserang oleh muatan positif dari kolin sehingga kolin lebih larut dalam eter daripada aseton yang tidak memiliki elektron bebas. Filtrat yang diperoleh dari penyaringan lesitin (eter-aseton) diuapkan diatas waterbath hingga menghasilkan suatu pasta.
Pengamatan 4
Bahan yang di uji
Keterangan
Air + Minyak sayur ( blangko )
Tidak menyatu, minyak berada diatas, air berada dibawah permukaan
Air + Minyak Sayur + Margarin
Minyak sayur dan margarine tidak dapat menyatu dalam air
Air + Minyak Sayur + Lesitin Telur
Minyak sayur naik keatas , lesitin telur dan air menyatu berada dibawah permukaan

            Lipid atau masyarakat sering menganggapnya sebagai lemak adalah senyawa organik yang tidak dapat larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik (nonpolar), seperti: kloroform, eter, dan minyak tanah. Molekul lemak tersusun dari unsur-unsur C, H, O, dan terkadang terdapat unsur P dan N. Lemak umumnya disusun oleh trigliserida (lemak netral) yang terdiri atas gliserol dan tiga asam lemak. Berdasarkan tingkat kejenuhannya, asam lemak dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak jenuh adalah asam lemak yang tidak mengandung ikatan rangkap. Misalnya asam palmitat dan asam stearat yang terdapat pada lemak hewani. Sedangkan asam lemak tak jenuh adalah asam lemak tak jenuh adalah asam lemak yang mengandung ikatan rangkap. Misalnya, asam oleat dan asam linoleat yang terdapat pada lemak nabati (Priadi 2009).
Pada percobaan yang telah dilakukan, pembentukan emulsi terlihat bahwa untuk percobaan bagian Minyak sayur dan margarin hanya dilarukan dengan menggunkan air. Tidak terjadi pembentukkan emulsi karena minyak, dan margarine tidak dapat larut didalam air Karena air merupakan pelarut polar (salirawati et al,2007). Minyak/lemak tidak dapat larut dalam air tetapi dapat membentuk emulsi yang stabil bila ada bahan lain yang dapat berfungsi sebagai emulgator.
Dengan proses hidrolisis lemak akan terurai menjadi asam lemak dan gliserol. Proses ini dapat berjalan dengan menggunakan asam, basa, atau enzim tertentu. Contohnya hidrolisis gliseril tristearat akan menghasilkan gliserol dan asam stearat (salirawati et al,2007)
Dari pengamatan yang telah dilakukan, mendapatkan hasil diantaranya air dan lemak jika dikocok akan terjadi emulsi dan ternyata tidak stabil. Sehingga akan kembali kepada keadaan semula (campuran) setelah didiamkan sejenak. Berdasarkan data yang diperoleh maka  dapat diketahui bahwa Beberapa lipida larut dalam pelarut organk dan sebagian lagi ada yang tidak larut. Pengujian pertama pada  minyak diuji dengan air yang dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Hasilnya minyak dan air tadi tidak bisa menyatu, sehingga dapat disimpulkan bahwa minyak bersifat nonpolar atau tidak menyatu dengan larutan polar atau air, begitu juga dengan margarin termasuk bersifat non polar. Namun pada susu, lipid ini larut dalam air yang berarti lipid bersifat polar atau dapat menyatu dengan air.


Emulsi dari Lemak
Bahan yang di uji
Keterangan
HCl + minyak sayur
Terjadi emulsi, minyak sayur berada diatas, HCl berada dibawah permukaan
HCl + Soda
Tidak terjadi emulsi
HCl + kolesterol
Terjadi emulsi, menyatu, asam lemak dari kolesterol keluar

Pada percobaan diatas hanya HCl yang diberi soda yang tidak terjadi emulsi, sedangkan pada minyak sayur dan kolesterol terjadi emulsi. (Syamsu 2007) HCl yang ditambahkan akan menyumbangkan ion-ion hidrogennya yang dapat memecah unsur lemak sehingga terbentuk lemak radikal bebas dan hidrogen radikal bebas. Kedua bentuk radikal ini bersifat sangat reaktif dan pada tahap akhir oksidasi akan dihasilkan peroksida
Kolesterol adalah salah satu jenis lipid yang digolongkan ke dalam isoprenoid yang merupakan jenis steroid. Kolesterol adalah molekul penting pada hewan yang berfungsi sebagai komponen membran sel, prekursor biosintesis hormon steroid, Vitamin D, dan garam empedu. Kolesterol mempunyai 2 gugus metil yang terikat pada atom C-13 dan C-10 dengan ikatan rangkap. Rantai cabang hidrokarbon terikat pada atom C-17, sedangkan gugus fungsionil hidroksil terletak pada atom C-3. Kolesterol disimpan di dalam sel sebagai ester asam lemak yang dihasilkan dari reaksi esterifikasi oleh enzim asetil KoA: Kolesterol asiltransferase (ACAT) di sitoplasma (Roswiem 2006).

ENZIM
Enzim dapat di produksi dengan cara mengekstraksi jaringan tanaman atau hewan dan mikroorganisme. Cara ini memiliki beberapa kelemahan, sehinggga yang sering dan umum dilakukan adalah cara membiakkan mikroba penghasil enzim yang dikehendaki pada media tertentu kemudian diektraksi. Keuntungan memproduksi enzim dari mikroba antara lain biaya produksi lebih rendah, dapat di produksi dalam waktu singkat serta mudah dikontrol. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Stone (2003), menyatakan bahwa keuntungan memproduksi enzim dari mikroba antara lain biaya produksi lebih rendah dapat diproduksi dalam waktu singkat serta mudah dikontrol. Kecepatan produksi enzim dapat lebih ditingkatkan dengan mengunakan strain mikroba, induksi mutan dan perbaikan kondisi kultur pertumbuhannya.

Hasil pengamatan
Getah pepaya
No.
Nama
Uji Organoleptik
Warna
S/TS
Bau
S/TS
Rasa
S/TS
Tekstur
S/TS
1
Danang Dwilingga
Putih Kehijauan
TS
Aroma Pepaya
TS
Pahit
TS
Lengket, menggumpal di tangan
S
2
Riyan Saputra
Putih Kehijauan
TS
Aroma Pepaya
S
Pahit
TS
Licin, menggumpal di tangan
TS
3
M Rasyid Ridho
Putih Kehijauan
S
Aroma Pepaya
S
Pahit
TS
Lembut, lengket
S
4
Rina Tisman
Putih Kehijauan
S
Aroma Pepaya
S
Pahit
TS
Licin
S
5
Desti Anggraini
Putih Kehijauan
S
Aroma Pepaya
S
Pahit
TS
Lengket
TS
6
Jahtera Manalu
Putih Kehijauan
S
Aroma Pepaya
TS
Pahit
TS
lembut
S
7
Eka Setiawan
Putih Kehijauan
S
Aroma Pepaya
TS
Pahit
TS
Licin
TS
8
Agustin Wulandari
Putih Kehijauan
TS
Aroma Pepaya
TS
Pahit
TS
Lengket
TS

Krim santan kelapa
No.
Nama
Uji Organoleptik
Warna
S/TS
Bau
S/TS
Rasa
S/TS
Tekstur
S/TS
1
Danang Dwilingga
Putih susu
S
Harum
S
Hambar
S
Lembut
S
2
Riyan Saputra
Putih susu
S
Aroma kelapa
S
Hambar
TS
Lembut
S
3
M Rasyid Ridho
Putih susu
S
Wangi
S
Hambar
S
Lembut
S
4
Rina Tisman
Putih susu
S
Wangi
S
Hambar
S
Lembut
S
5
Desti Anggraini
Putih susu
S
Harum
S
Hambar
TS
Lembut
S
6
Jahtera Manalu
Putih susu
S
Harum
S
Hambar
S
Lembut
S
7
Eka Setiawan
Putih susu
S
Harum
S
Hambar
TS
Lembut
S
8
Agustin Wulandari
Putih susu
S
wangi
S
Hambar
S
Lembut
S

Dalam praktikum ini jenis tanaman yang digunakan dalam uji enzim ialah buah papaya. Karena papaya mengandung enzim papain yang kemudian di campurkan dengan krim santan kelapa sehingga menghasilkan minyak. Enzim ini diproduksi dengan cara mengekstraksi dari jaringan tanaman atau hewan dan mikroorganisme. Jhonson (2002), menyatakan bahwa enzim yang berperan dalam ekstraksi minyak kelapa adalah enzim yang menghidrolisis makro molekul karbohidrat dan protein (proteolitik).
Wandi (2003), menyatakan bahwa hal yang perlu diperhatikan karena enzim merupakan protein biokatalisator yaitu daya tahan pada pH, suhu, dan lingkungan lain dengan kisaran yang tidak terlalu besar sehingga pemakaian buffer dan pemilihan faktor lingkungan yang tepat penting diperhatikan.


Getah pepaya + Krim santan kelapa
No.
Nama
Uji Organoleptik
Warna
S/TS
Bau
S/TS
Rasa
S/TS
Tekstur
S/TS
1
Danang Dwilingga
Putih Kehijauan
TS
Aroma Pepaya
TS
Pahit
TS
Lengket, menggumpal di tangan
S
2
Riyan Saputra
Putih Kehijauan
TS
Aroma Pepaya
S
Pahit
TS
Licin, menggumpal di tangan
TS
3
M Rasyid Ridho
Putih Kehijauan
S
Aroma Pepaya
S
Pahit
TS
Lembut, lengket
S
4
Rina Tisman
Putih Kehijauan
S
Aroma Pepaya
S
Pahit
TS
Licin
S
5
Desti Anggraini
Putih Kehijauan
S
Aroma Pepaya
S
Pahit
TS
Lengket
TS
6
Jahtera Manalu
Putih Kehijauan
S
Aroma Pepaya
TS
Pahit
TS
lembut
S
7
Eka Setiawan
Putih Kehijauan
S
Aroma Pepaya
TS
Pahit
TS
Licin
TS
8
Agustin Wulandari
Putih Kehijauan
TS
Aroma Pepaya
TS
Pahit
TS
Lengket
TS

Dari pengamatan yang telah dilakukan, pada uji Organoleptik terdapat hasil yang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena berbedanya penadapat masing-masing orang saat dilakukan pengujian. Pada saat getah buah papaya ditambahkan dengan krim santan kelapa mengalami perubahan. Wibowo (2001), yang menyatakan bahwa pada penambahan getah buah pepaya muda dengan krim santan kelapa jika dicampur antara yang dengan yang lain maka dari warna rasa dan baunya akan jauh berubah dari awalnya.
Enzim secara khasnya disebut dengan katalisator yaitu dapat mempercepat terjadinya suatu reaksi, tetapi pada umumnya tidak ikut muncul dalam perekasian tersebut ungkapan tersebut di dukung oleh pendapat Jameso Brends (2000), menyatakan bahwa enzim sebagai katalisator karena enzirn sebagai suatu zat yang dapat mempercepat reaksi kimia tanpa ikut atau muncul dalam hasil reaksi.
Enzim ini juga merupakan protein yang disintesis oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi yang berlangsung di dalamnya, enzim ini juga disebut biokatalisator dengan spesifisitas dan efisiensi tinggi. Reybred (2003), menyatakan bahwa enzim merupakan biokatalisator dengan spesifisitas dan efisiensi tinggi.
 Enzim ini diproduksi dengan cara mengekstraksi dari jaringan tanaman atau hewan dan mikroorganisme. Di dalam tubuh enzim ini sangat dibutuhkan oleh jaringan tubuh kita, karena jika tidak ada enzim maka proses reaksi ditubuh kita akan berjalan lambat. Sebagai parameter dari reaksi enzimatis yang diketahui dalam penelitian yaitu Kmax dan Vmax yang menyatakan bahwa semakin murni suatu enzim maka akan semakin tinggi pula spesifik aktifitasnya. Vones (2002), menyatakan bahwa aktivitas spesifik enzim merupakan parameter reaksi enzim yang dapat mengambarkan daya kerja enzim yang bersangkutan.

















PENUTUP
Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum Protein dan asam amino ialah Protein tersusun atas polimer asam amino yang bersifat khas, bukan hanya bagi gugus amino dan gugus karboksil bebas, tetapi juga bagi gugus R yang terkandung di dalamnya. Setelah melaksanakan praktikum mengenai kelarutan asam amino, dapat disimpulkan bahwa daya larut beberapa asam amino tertentu dapat larut pada pelarut tertentu, misalnya : glisin dan histidin dapat larut dalam larutan HCl, NaOH dan Aquades, sedangkan tirosin hanya larut dalam larutan etanol.
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Karbohidrat dapat diidentifikasi oleh pereaksi molisch. Fermentasi mediun cair lebih memungkinkan untuk mengendalikan faktor – factor fisik dan kimia yang mempengaruhi proses fermentasi seperti suhu, pH dan kebutuhan oksigen.
Kesimpulan dari praktikum Lipida adalah dapat diketahui bahwa lemak (lipid) memiliki sifat larut dalam pelarut nonpolar yaitu seperti etanol. Sedangkan lipid tidak dapat terlarut dalam air, karena air bersifat polar. Dari setiap bahan yang digunakan menghasilkan reaksi yang berbeda. Ada yang terbentuk emulsi dan ada yang tidak.
Kesimpulan dari praktikum Enzim adalah Enzim merupakan protein yang disentesis oleh sel hidup untuk mengkatalisasi reaksi yang berlangsung didalamnya. Oleh karena reaksi yang enzimatis sangat bervariasi, maka biokatalisator yang dibentuk, jumlah maupun jenisnya tak terhitung banyaknya. Enzim merupakan biokatalisator dengan spesifikasi dan efisiensi tinggi. Enzim dapat diproduksi dengan cara mengektraksi dari jaringan tanaman atau hewan dan mikroorganisme. Hasil uji Organoleptik menghasilkan tanggapan indera yang berbeda-beda.


Saran
Sebaiknya dalam melakukan praktikum, praktikan harus bisa memanfaatkan waktu yang telah ditentukan, agar data yang diperoleh lebih akurat. Dan semoga pada praktikum yang akan datang menjadi lebih baik dan kita semua bias menjalankan praktikum ini dengan lebih paham lagi, serta menjaga kebersihan lab.













DAFTAR PUSTAKA
Anonim, ASAM AMINO, www.forumbinaraga.com



Jhonson.2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Jameso, B. 2000. Biokimia Umum. Jakarta : Erlangga
Nursholeh. Laporan kuliah. Nursholehfapetunja.blogspot.com. diakses 02 April
            2013
Reyberd. 2003.Petunjuk Praktikum Biokimia Laboratorium Dasar Universitas
                  Trunojoyo.
Tim Dosen Biokimia. 2013. Penuntun praktikum Biokimia. Universitas Jambi
            :Fakultas Peternakan.
Tim penyusun. 2006, Penuntun Praktikum Biokimia Umum, Laboratorium
            Biokimia,Universitas Hasanuddin, Makassar.
Tri Rini Nuringtyas, http://ASAM AMINO DAN PROTEIN. www.google.com

Wandi. 2003. Biokimia Harper. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran    
            EGC 




Jumat, 10 Mei 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah ditambah dengan larutan HCl 0.1N kemudian diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Metode ini memiliki kesalahan sebesar 10-15%, sehingga tidak dapat untuk menghitung indeks eritrosi. Anemia adalah suatu keadaan dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah dari normal. Anemia bisa juga berarti suatu kondisi ketika terdapat defisiensi ukuran atau jumlah eritrosit atau kandungan hemoglobin. Anemia yang paling umum ditemukan di masyarakat adalah anemia gizi besi. Terjadinya anemia gizi besi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kandungan zat besi dalam makanan sehari-hari, penyerapan zat besi dari makanan yang sangat rendah, adanya parasit dalam tubuh seperti cacing tambang atau cacing pita, diare, kehilangan banyak darah akibat kecelakaan atau operasi karena penyakit (Wirakusumah, 1999). Anemia gizi besi adalah anemia yang terjadi akibat kekurangan zat besi dalam darah. Artinya, konsentrasi hemoglobin dalam darah berkurang karena terganggunya pembentukan sel-sel darah merah akibat kurangnya kadar zat besi dalam darah. Semakin berat kurangnya kadar zat besi yang terjadi, akan semakin berat anemia yang diderita. Anemia gizi besi berakibat buruk bagi penderita terutama bagi golongan rawan gizi yaitu anak balita, anak sekolah, remaja, ibu hamil dan ibu menyusui serta pekerja terutama yang berpenghasilan rendah. Pada anak dan remaja yang terkena anemia gizi akan terganggu 2 pertumbuhan fisik dan perkembangan. Selain itu, aktivitas fisiknya juga akan menurun (Wirakusumah, 1999). Prevalensi anemia (< 12g/ dl) adalah sebesar 27% ( remaja desa) dan 22% (remaja kota) pada saat tidak sedang menstruasi. Sebanyak 24% (remaja desa) dan 27,8% (remaja kota) pada saat menstruasi. Data tersebut menunjukkan bahwa kadar hemoglobin lebih tinggi pada remaja desa pada saat menstruasi, sedangkan kadar hemoglobin lebih rendah pada remaja desa pada saat tidak sedang menstruasi (Vasanthi et.al, 1991). 1.2. Tujuan Untuk mengetahui kadar hemoglobin (Hb) darah BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Hemoglobin Hemoglobin merupakan protein yang terdapat dalam sel darah merah atau eritrosit, yang memberi warna merah pada darah. Hemoglobin terdiri atas zat besi yang merupakan pembawa oksigen. Kadar hemoglobin dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain metode Sahli, oksihemoglobin atau sianmethhemoglobin. Metode Sahli tidak dianjurkan karena memiliki kesalahan yang besar, alatnya tidak dapat distandardisasi, dan tidak semua jenis hemoglobin dapat diukur, seperti sulfhemoglobin, methemoglobin dan karboksihemoglobin. Dua metode yang lain (oksihemoglobin dan sianmethemoglobin) dapat diterima dalam hemoglobinometri klinik. Namun, dari dua metode tersebut, metode sianmethemoglobin adalah metode yang dianjurkan oleh International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH) sebab selain mudah dilakukan juga mempunyai standar yang stabil dan hampir semua hemoglobin dapat terukur, kecuali sulfhenoglobin. Kadar hemoglobin dalam darah sangat tergantung pada jenis kelamin dan umur seseorang.  Pria dewasa : 13.2 - 17.3 g/100 ml darah  Perempuan : 11.7 - 15.5 g/100 ml darah  Bayi baru lahir : 15.2 - 23.6 g/100 ml darah  Anak usia 1-3 tahun : 10.8 - 12.8 g/100 ml darah  Anak usia 4-5 tahun : 10.7 - 14.7 g/100 ml darah  Anak usia 6-10 tahun : 10.8 - 15.6 g/100 ml darah 2.2 Dasar Penetapan Penetapan Hb metode Sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah ditambah dengan larutan HCl 0.1N kemudian diencerkan dengan aquadest. Pengukuran secara visual dengan mencocokkan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. Metode ini memiliki kesalahan sebesar 10-15%, sehingga tidak dapat untuk menghitung indeks eritrosit. Penetapan kadar Hb metode oksihemoglobin didasarkan atas pembentukan oksihemoglobin setelah sampel darah ditambah larutan Natrium karbonat 0.1% atau Ammonium hidroksida. Kadar Hb ditentukan dengan mengukur intensitas warna yang terbentuk secara spektrofotometri pada panjang gelombang 540 nm. Metode ini tidak dipengaruhi oleh kadar bilirubin tetapi standar oksihemoglobin tidak stabil. Metode sianmethemoglin didasarkan pada pembentukan sianmethemoglobin yang intensitas warnanya diukur secara fotometri. Reagen yang digunakan adalah larutan Drabkin yang mengandung Kalium ferisianida (K3Fe[CN]6) dan kalium sianida (KCN). Ferisianida mengubah besi pada hemoglobin dari bentuk ferro ke bentuk ferri menjadi methemoglobin yang kemudian bereaksi dengan KCN membentuk pigmen yang stabil yaitu sianmethemoglobin. Intensitas warna yang terbentuk diukur secara fotometri pada panjang gelombang 540 nm. Selain K3Fe[CN]6 dan KCN, larutan Drabkin juga mengandung kalium dihidrogen fosfat (KH2PO4) dan deterjen. Kalium dihidrogen fosfat berfungsi menstabilkan pH dimana rekasi dapat berlangsung sempurna pada saat yang tepat. Deterjen berfungsi mempercepat hemolisis darah serta mencegah kekeruhan yang terjadi oleh protein plasma. Hemoglobin berperan penting dalam mempertahankan bentuk sel darah merah dan memberi warna merah pada darah. Struktur hemoglobin yang abnormal bisa mengganggu bentuk sel darah merah dan menghambat fungsi dan aliran darah melewati pembuluh darah. beberapa kondisi yang berkaitan dengan jumlah SDM dan Hb yaitu : 1. Jumlah SDM normal tapi kadar Hb kurang karena ukuran SDM lebih kecil daripada normal yang disebut anemia mikrositik. 2. Jumlah SDM normal tetapi kadar Hb kurang karena kadar Hb memang kuarang daripada normal yang disebut anemia hipokromik. Kadar hemoglobin dalam darah dapat ditentukan dengan berbagai macam cara atau metode. Metode yang paling tepat adalah berdasarkan atas analisa kandungan besi atau kapasitas peningkatan oksigen dari molekul tersebut. Sejumlah prosedur yang cepat telah dikenbangkan berdasarkan pengamatan secara langsung pada warna darah dan menyamakan dengan suatu standar buatan. Penetapan Hb metode sahli didasarkan atas pembentukan hematin asam setelah darah ditambah drngan larutan HCL 0,1 N kemudian diemcerkan dengan aquadest. Pengukuran secara visual dengan mencocokan warna larutan sampel dengan warna batang gelas standar. BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM 3.1. Waktu dan Tempat Praktikum dilakukan pada hari jumat tanggal 16 desember 2011 dan pada pukul 13.20 WIB. Dan bertempat dilaboratorium MIPA IAIN Raden Fatah Palembang. 3.2. Alat dan Bahan  Alat : haemometer sahli, pipet sahli yang bersekala dari 0,02 ml (ketelitiannya 1%), standar pasteur, batang pengaduk dari gelas, jarum suntik.  HCL 0,1 N, aquadest. 3.3. Cara Kerja 1. Masukkan kira-kira 5 tetes HCL 0,1 N ke dalam tabung pengencer hemometer. 2. Isaplah darah dengan pipet hemoglobin sampai garis tanda 0,02 ml. 3. Hapuslah darah yang melekat pada sebelah luar ujung pipet. 4. Catatlah waktunya dan segerahlah alirkan darah dari pipet kedalam dasar tabung pengenceran yang berisi HCL itu, hati-hati jangan sampai terjadi gelembung udara. 5. Angkatlah pipet itu sedikit, lalu isap asam HCL yang jernih itu kedalam pipet 2 atau 3 kali untik membersihkan darah yang masih tinggal dalam pipet. 6. Campurkan isi tabung itu supaya darah dan asam bersenyawa, warna campuran menjadi coklat tua. 7. Tambahkam air setetes demi setetes, tiap kali diaduk dengan batang standar harus dicapai 5 menit. Setelah saat darah dan HCL di campur dalam alat sahli. Dalam alat mempersamakan warna hendaknya tabung diputar demikian sehingga garis bagi tidak terlihat. 8. Bacalah kadar hemoglobin dengan garam/100 ml darah (gr%) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Nama Mahasiswa Kadar Hemoglobin Keterangan M. Osen 10,4 Normal Mussiah 6 Anemia Sefti yanti 9 Anemia Umi latifah 8 Anemia 4.2. Pembahasan Pada kegiatan praktikum kali ini telah dilakukan beberapa uji sampel kepada beberapa mahasiswa yang melakukan praktikum, tapi dari kegiatan yang telah dilakukan hasil yang didapat adalah kebanyakan Hb dari tiap-tiap mahasiswa dibawah ambang batas Hb yang menjadi standar pengukuran. Adapun beberapa hal yang menjadi sumber kesalahan, dari praktikum yang telah kami lakukan ialah ialah: Tidak semua hemoglobin berubah menjadi hematin asam seperti karboksihemoglobin, methemoglobin, sulfahemoglobin. • Kemampuan untuk membedakan warna tidak sama • Sumber cahaya yang kurang baik. • Kelelahan mata • Alat-alat kurang bersih Pemeriksaan hemoglobin dalam darah mempunyai peranan yang penting dalam diagnosa suatu penyakit, karena hemoglobin merupakan salah satu protein khusus yang ada dalam sel darah merah dengan fungsi khusus yaitu mengangkut O2 ke jaringan dan mengembalikan CO2 dari jaringan ke paru-paru. Kegunaan dari pemeriksaan hemoglobin ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesehatan pada pasien, misalnya kekurangan hemoglobin yang biasa disebut anemia. Hemoglobin bisa saja berada dalam keadaan terlarut langsung dalam plasma. Akan tetapi kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen tidak bekerja secara maksimum dan akan mempengaruhi pada faktor lingkungan. Hemoglobin yang meningkat terjadi karena keadaan hemokonsentrasi akibat dehidrasi yang menurun dipengaruhi oleh berbagai masalah klinis. Pemeriksaan hemoglobin dilakukan pengukuran dengan metode cyanmethemoglobin. Sebelumnya eritrosit dilisiskan kemudian heme dioksidasi menjadi cyanmethemoglobin dan diukur dengan fotometer pada panjang gelombang 540 nm. Hemoglobin merupakan pigmen dari eritrosit yang sangat kompleks. Hemoglobin merupakan persenyawaan antara protein, globin dan zat warna (heme). Keistimewaan dari hemoglobin adalah dapat mengikat O2 dan CO2. Pada metode sahli, darah sengan larutan HCl 0,1 N akan membentuk hematin yang berwarna coklat. Setelah itu, warna disamakan dengan warna standar sahli dengan menambahkan aquadest sebagai pengencer. Prinsip hemoglobin diubah mejadi asam hematin, kemudian warna yang terjadi dibandingkan secara visual dengan standar dalam alat itu. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Hemoglobin adalah metalprotein pengangkut oksigen yang mengandung besi dalam sel merah dalam darah mamalia dan hewan lainnya. Molekul hemoglobin terdiri dari globin, apoprotein dan empat gugus heme, suatu molekul organik dengan satu atom besi. Hemoglobin adalah protein yang kaya akan zat besi. Memiliki afinitas (daya gabung) terhadap oksigen dan dengan oksigen itu membentuk oxihemoglobin di dalam sel darah merah. Dengan melalui fungsi ini maka oksigen dibawa dari paru-paru ke jaringan-jaringan (Evelyn, 2009). Hemoglobin merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks kapasitas pembawa oksigen pada darah. Hemoglobin adalah kompleks protein-pigmen yang mengandung zat besi. Kompleks tersebut berwarna merah dan terdapat didalam eritrosit. Sebuah molekul hemoglobin memiliki empat gugus haeme yang mengandung besi fero dan empat rantai globin (Brooker, 2001). Kadar hemoglobin dalam darah sangat tergantung pada jenis kelamin dan umur seseorang.  Pria dewasa : 13.2 - 17.3 g/100 ml darah  Perempuan : 11.7 - 15.5 g/100 ml darah  Bayi baru lahir : 15.2 - 23.6 g/100 ml darah  Anak usia 1-3 tahun : 10.8 - 12.8 g/100 ml darah  Anak usia 4-5 tahun : 10.7 - 14.7 g/100 ml darah  Anak usia 6-10 tahun : 10.8 - 15.6 g/100 ml darah Berdasarkan hasil percobaan, dalam penetapan kadar hemoglobin yang digunakan untuk mendiagnosa anemia, diketahui bahwa metode hematin asam dengan termometer sahli dinilai lebih besar tingkat ke akuratannya dibandingkan dengan metode tallquist. Hal tersebut terjadi karena terdapat beberapa faktor, diantaranya adalah ketelitian praktikan yang cenderung lebih besar saat menggunakan metode hemometer sahlia yang notabene memiliki skala yang lebih baik 5.2. Saran 1. Pada saat penelitiaan sebaiknya siswa berhati-hati agar tidak terjadi kesalahan. 2. Pada saat pengambilan darah sebaiknya darah yang diambil melalui pipet jangan sampai teputus, dan harus sesuai dengan ukuran yang ada. 3. Dan pada saat pengambilan sampel hendaknya berhati-hati dalam melihat warna, karena harus sama dengan tabung yang ada di dalam alat sahli haemometer. DAFTAR PUSTAKA Http://www.Aquvet.il2.Com http:// www.hemoglobin.com http:// www.wikipediagolongandarah.com http:// www.wikipediahemoglobin.com http:// www.blog-anatomi-com Syarifah, Elfira Rosa. 2011: Panduan praktikum fisiologi hewan.Palembang Syamsuri, Istamar. 2004: Erlangga Biologi XI. Jakarta. HEMATOKRIT HEMATOKRIT Tujuan Menetukan nilai hemaktokrit (% volume eritrosit di dalam darah dengan metode Makrohematokrit. Dasar Teori Darah adalah suatu fluida (yang dinamakan plasma) tempat beberapa bahan terlarut dan tempat eritrosit, leukosit dan beberapa bahan lain yang tersuspensi. Sistem peredaran darah terdiri dari jantung(yang merupakan pusat pemompaan darah), arteri (pembuluh darah dari jantung), kapiler (yang menghubungkan arteri dengan vena) dan vena (pembuluh darah yang menuju jantung). Sistem peredaran darah pada ikan disebut sistem peredaran darah tunggal. Yang dimaksud dengan peredaran darah tunggal adalah dimana darah hanya satu kali saja melewati jantung. Darah yang terkumpul dari seluruh tubuh masuk ke atrium. Pada saat relaksasi, darah mengalir pada sebuah katup kedalam ventrikel yang berdinding tebal. Kontraksi dari ventrikel ini sangat kuat sehingga menyebabkan darah keluar menuju jaringan kapiler insang lalu dari insang darah mengalir ke jaringan kapiler lain dalam tubuh. Pertukaran zat-zat pun terjadi pada saat pengaliran darah ini. Darah berfungsi mengedarkan suplai makanan kepada sel-sel tubuh, membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh, membawa hormon dan enzim ke organ yang memerlukan. Pertukaran oksigen terjadi dari air dengan karbondioksida terjadi pada bagian semipermeable yaitu pembuluh darah yang terdapat di daerah insang. Selain itu, di daerah insang terjadi pengeluaran kotoran yang bernitrogen. Melalui sel darah, suatu organisme dapat pula diketahui sampai mana organisme tersebut mengalami pencemaran, baik itu dari media hidupnya dimana kualitas air tidak memenuhi syarat. Untuk mengetahui lebih lanjut dapat kita lihat dari presentase hematokrit yang terkandung dalam darah Pemeriksaan hematologi merupakan sekelompok pemeriksaan laboratorium yang terdiri atas beberapa macam pemeriksaan. Pemeriksaan darah rutin meliputi hemoglobin, jumlah lekosit, hitung jenis lekosit, Laju Endap Darah (LED). Pemeriksaan darah khusus meliputi gambaran darah tepi, jumlah eritrosit, hematokrit, indeks eritrosit, jumlah retikulosit dan jumlah trombosit (Budiwiyono, dkk, 1995). Pemeriksaan hematokrit merupakan salah satu pemeriksaan darah khusus yang sering dikerjakan dilaboratorium berguna untuk membantu diagnosa berbagai penyakit diantaranya Demam Berdarah Dengue (DBD), anemia, polisitemia. Penetapan nilai hematokrit dapat dilakukan dengan cara makro dan mikro. Pada cara makro digunakan tabung wintrobe, sedangkan pada cara mikro digunakan pipet kapiler (Wirawan, dkk, 1996). Metode pemeriksaan secara mikro berprinsip pada darah yang dengan antikoagulan dicentrifuge dalam jangka waktu dan kecepatan tertentu, sehingga sel darah dan plasmanya terpisah dalam keadaan mapat. Prosentase volum kepadatan sel darah merah terhadap volume darah semula dicatat sebagai hasil pemeriksaan hematokrit (Gandasoebrata, 2008). Untuk pemeriksaan-pemeriksaan hematologi dan pemeriksaan lain yang menggunakan darah sebagai bahan pemeriksaan, pengambilan darah penderita (sampling) merupakan awal pemeriksaan yang harus dikerjakan dengan benar karena akan sangat menentukan hasil pemeriksaan (Purwanto, 1996). Pemeriksaan hematokrit dapat diukur dengan menggunakan darah vena atau darah kapiler (Gandasoebrata, 2008). Darah kapiler digunakan bila jumlah darah yang dibutuhkan hanya sedikit, sedangkan bila jumlah darah yang dibutuhkan lebih dari 0,5 ml lebih baik menggunakan darah vena (Kiswari dan Agung, 2005). Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume, PCV) adalah persentase volume eritrosit dalam darah yang dimampatkan dengan cara diputar pada kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah. Berdasarkan reprodusibilitas dan sederhananya, pemeriksaan ini paling dapat dipercaya di antara pemeriksaan yang lainnya, yaitu kadar hemoglobin dan hitung eritrosit. Dapat dipergunakan sebagai tes penyaring sederhana terhadap anemia. Lokasi pengambilan darah kapiler pada orang dewasa dipakai ujung jari atau cuping telinga sedangkan lokasi pengambilan darah vena pada orang dewasa pada dasarnya semua vena superfisial dapat dipakai namun yang sering digunakan ialah vena mediana cibiti karena mempunyai fiksasi yang lebih sehingga memudahkan pada saat sampling (Gandasoebrata, 2008). Hematokrit atau volume eritrosit yang dimampatkan (packed cell volume, PCV) adalah persentase volume eritrosit dalam darah yang dimampatkan dengan cara diputar pada kecepatan tertentu dan dalam waktu tertentu. Tujuan dilakukannya uji ini adalah untuk mengetahui konsentrasi eritrosit dalam darah. Berdasarkan reprodusibilitas dan sederhananya, pemeriksaan ini paling dapat dipercaya di antara pemeriksaan yang lainnya, yaitu kadar hemoglobin dan hitung eritrosit. Dapat dipergunakan sebagai tes penyaring sederhana terhadap anemia. Nilai hematokrit atau PCV dapat ditetapkan secara automatik menggunakan hematology analyzer atau secara manual. Metode pengukuran hematokrit secara manual dikenal ada 2, yaitu : 1. Metode makrohematokrit Pada metode makro, sebanyak 1 ml sampel darah (darah EDTA atau heparin) dimasukkan dalam tabung Wintrobe yang berukuran panjang 110 mm dengan diameter 2.5-3.0 mm dan berskala 0-10 mm. Tabung kemudian disentrifus selama 30 menit dengan kecepatan 3.000 rpm. Tinggi kolom eritrosit adalah nilai hematokrit yang dinyatakan dalam %. 2. Metode mikrohematokrit Pada metode mikro, sampel darah (darah kapiler, darah EDTA, darah heparin atau darah amonium-kalium-oksalat) dimasukkan dalam tabung kapiler yang mempunyai ukuran panjang 75 mm dengan diameter 1 mm. Tabung kapiler yang digunakan ada 2 macam, yaitu yang berisi heparin (bertanda merah) untuk sampel darah kapiler (langsung), dan yang tanpa antikoagulan (bertanda biru) untuk darah EDTA/heparin/amonium-kalium-oksalat. Prosedur pemeriksaannya adalah : sampel darah dimasukkan ke dalam tabung kapiler sampai 2/3 volume tabung. Salah satu ujung tabung ditutup dengan dempul (clay) lalu disentrifus selama 5 menit dengan kecepatan 15.000 rpm. Tinggi kolom eritrosit diukur dengan alat pembaca hematokrit, nilainya dinyatakan dalam %. Metode mikrohematokrit lebih banyak digunakan karena selain waktunya cukup singkat, sampel darah yang dibutuhkan juga sedikit dan dapat dipergunakan untuk sampel tanpa antikoagulan yang dapat diperoleh secara langsung. Pada sampling darah vena pemakaian ikatan pembendung yang terlalu lama atau kuat dapat mengakibatkan hemokonsentrasi. Hemolisis juga dapat terjadi jika spuit dan jarum yang digunakan basah atau tidak melepaskan jarum spuit terlebih dahulu ketika memasukkan darah ke dalam botol sampel (Gandasoebrata, 2008). Sampling darah kapiler lebih mudah dibanding dengan sampling yang lain. Namun tempat penusukan harus baik, aliran darah lancar dan tidak boleh ada perdangan. Ujung jari yang ditekan-tekan dapat menyebabkan tercampurnya darah kapiler dengan cairan jaringan (Purwanto, 1996). Darah kapiler dan darah vena mempunyai susunan darah berbeda. Packed Cell Volume (PCV) atau hematokrit, hitung jumlah sel darah merah, hemoglobin pada darah kapiler sedikit lebih rendah dari pada darah vena (Purwanto, 1996). Total lekosit dan jumlah netrofil lebih tinggi darah kapiler sekitar 8%, jumlah monosit sekitar 12%, sebaliknya jumlah trombosit lebih tinggi darah vena dibanding darah kapiler. Perbedaan sekitar 9% atau 32 % pada keadaan tertentu. Terjadinya ini mungkin berkaitan dengan adhesi trombosit pada tempat kebocoran kulit (Dacie and Lewis, 2002). Alat Dan Bahan : 1. Tabung Wintrob berskal 0-10 2. Alat pusing biasa (centrifuge) 3. Pipet berujung panjang (pipet Pasteur) 4. Antikoagulan : Na sitrat 3,8 % 5. Alat untuk mengambil darah Prosedur Kerja 1. Dengan menggunakan pipet Pasteur isi tabung Wintrob dengan darah yang telah dicampur dengan antikoagulan sampai tinggi darah dalam tabung 3,2 2. Kemudian diisi dengan akuades sama banyak 3,2 3. Lakukan pada tabung lain sebanyak 3 tabung 4. Pusingkan dengan centrifuge pada kecepatan 3000 rpm selama 5 menit Hasil Pengamatan 1. Tinggi darah dalam tabung : 3,2 2. Akuades yang diisi : 3,2 3. Di centrifugasi selama 5 menit 4. Endapan = 0,5/3,2 X 100% = 15.625% Pembahasan Hematokrit adalah persentase volume seluruh SDM yang ada dalam darah yang diambil dalam volume tertentu. Untuk tujuan ini, darah diambil dengan semprit dalam suatu volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan kedalam suatu tabung khusus berskala hematokrit. Untuk pengukuran hematokrit ini darah tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi anti koagulan. Setelah tabung tersebut dipusingkan / sentripus dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka SDM akan mengendap. Dari skala Hematokrit yang tertulis di dinding tabung dapat dibaca berapa besar bagian volume darah seluruhnya. Nilai hematokrit yang disepakati normal pada laki – laki dewasa sehat ialah 45% sedangkan untuk wanita dewasa adalah 41%. Darah dengan antikogulan isotonic dalam tabung dipusing selama 30 menit dengan kecepatan 3000 rpm sehingga eritrosit dipadatkan kecepatan 3000 rpm sehingga eritrosit dipadatkan membuat kolom dibagian bawah dan tabung tingginya kolom mencerminkan nilai hematokrit. Intinya Darah dicentrifuge supaya eritrosit mengendap. Prinsip pemeriksaan hematokrit cara manual yaitu darah yang mengandung antikoagulan disentrifuse dan total sel darah merah dapat dinyatakan sebagai persen atau pecahan desimal. Penetapan nilai hematokrit cara manual dapat dilakukan dengan metode makrohematokrit atau metode mikrohetokrit. Pada cara makrohematokrit digunakan tabung Wintrobe yang mempunyai diameter dalam 2,5 – 3 mm,panjang 110 mm dengan skala interval 1 mm sepanjang 100 mm dan volumenya ialah 1 ml. pada cara mikrohematokrit digunakan tabung kapiler yang panjangnya 75 mm dan diameter dalam 1 mm, tabung ini ada dua jenis, ada yang dilapisi antikoagulan Na2EDTA atau heparin dibagian dalamnya dan ada yang tanpa koagulan. Tabung kapiler dengan anti koagulan dipakai bila menggunakan darah tanpa anti koagulan seperti darah kapiler, sedangkan tabung kapiler dengan antikoagulan dipakai bila menggunakan darah dengan anti koagulan seperti darah vena. Metode mikrohematokrit mempunyai keunggulan lebih cepat dan sederhana. Metode mikrohematokrit proporsi plasma dan eritrosit (nilai hematokrit) dengan alat pembaca skala hematokrit. Metode pemeriksaan secara mikro berprinsip pada darah yang dengan antikoagulan dicentrifuge dalam jangka waktu dan kecepatan tertentu, sehingga sel darah dan plasmanya terpisah dalam keadaan mapat. Prosentase volum kepadatan sel darah merah terhadap volume darah semula dicatat sebagai hasil pemeriksaan hematokrit. Pertama-tama, tabung Wintrobe diisi dengan darah antikoagulan. Kemudian masukkan tabung tersebut ke dalam sentrifuge (pemusing) yang cukup besar, pusinglah selama 5 menit dengan kecepatan 3000 rpm. Bacalah hasilnya dengan memperhatikan : • Warna plasma di atas : warna kuning itu dapat dibandingkan dengan larutan kaliumbicarbonat dan intensitasnya disebut dengan satuan. Satu satuan sesuai dengan warna kaliumbicarbonat 1 : 10000. • Tebalnya lapisan putih di atas sel-sel merah yang tersusun dari leukosit dan trombosit (buffy coat) • Volume sel-sel darah merah Dari hasil percobaan yang dilakukan didapatkan hasil, yaitu persentase hematokrit yang menunjukan nilai persentase sel darah merah. Pada percobaan kelompok didapatkan nilai hematokritnya 15,6% . Hal ini berarti darahnya terdiri dari 15,6% sel darah. Kesimpulan Hematokrit adalah persentase volume seluruh SDM yang ada dalam darah yang diambil dalam volume tertentu. Untuk tujuan ini, darah diambil dengan semprit dalam suatu volume yang telah ditetapkan dan dipindahkan kedalam suatu tabung khusus berskala hematokrit. Untuk pengukuran hematokrit ini darah tidak boleh dibiarkan menggumpal sehingga harus diberi anti koagulan. Setelah tabung tersebut dipusingkan / sentripus dengan kecepatan dan waktu tertentu, maka SDM akan mengendap. Dari skala Hematokrit yang tertulis di dinding tabung dapat dibaca berapa besar bagian volume darah seluruhnya. Nilai hematokrit yang disepakati normal pada laki – laki dewasa sehat ialah 45% sedangkan untuk wanita dewasa adalah 41%. Dari hasil percobaan yang dilakukan didapatkan hasil, yaitu persentase hematokrit yang menunjukan nilai persentase sel darah merah. Pada percobaan kelompok didapatkan nilai hematokritnya 15,6% . Hal ini berarti darahnya terdiri dari 15,6% sel darah. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam penetuan bahan pakan diperlukan preparasi sampel supaya sampel tersebut berhasil. Analisis suatu bahan pakan hanya akan dicapai secara baik jika pengambilan sampel bahan dilakukan secara benar dan representatif. Pengambilan perlu memperhatikan homogenitas sampel yaitu efek ukuran dan berat partikel sangat berpengaruh terhadapa homogenitas bahan. Bahan dengan ukuran dan berat lebih besar cenderung akan berpisah dengan bahan yang lebih kecil dan ringan (Segregasi). Cara pengambilan sampel yaitu dilakukan dengan dua cara yaitu dengan aselektif artinya pengambilan sampel secara acak dari keseluruhan bahan tanpa memperhatikan atau memisahkan bagian dari bahan tersebut, selektif artinya pengambilan sampel secara acak dari bagian tertentu suatu bahan. Jumlah sampel sudah ada ketentuan yaitu 10 % dari berat bahan dan sangat berpengaruh pada tingkat representatif. Penanganan sampel dilakukan agar sampel tidak mengalami perubahan sifat saat pengambilan sampel. Prosesing sampel yaitu tujuan evaluasi terutama evaluasi secara mikroskopis, kimia dan biologis, semua sampel juga harus digiling sehingga diperoleh sampel yang halus. Penentuan kadar air sampel segar digunakan rumus : Kadar Air (%, Y) = x 100 % Kadar Bahan Kering (%) = x 100 % Kadar Bahan Kering (%) = 100% - % Kadar Air Penentuan kadar air yaitu air pakan akan menguap oleh panas, sehingga yang tinggal adalah bahan kering. Persentase air dihitung dari perbedaan bobt contoh sebelum dan sesudah perlakuan panas. 1.2 Tujuan dan Manfaat Tujuan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa mengetahui bagaimana cara dalam pengambilan sampel dengan melakukan preparasi sampel. Dan harus dilakukan dengan cara representatif supaya mendapatkan hasil yang benar. Manfaat dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengetahui bagaimana cara pengambilan sampel yang representatif dan benar dan bagaimana cara menghitung kadar air dan berat bahan kering. II. TINJAUAN PUSTAKA Penentuan kualitas suatu bahan pakan dapat dilakukan secara fisik, kimia maupun biologis. Lankah tersebut dilakukan mengingat adanya variasi antara bahan pakan. Dua macam bahan pakan mungkin secara fisik terlihat sama namun mungkin saja kedua bahan pakan tersebut mempunyai komposisi kimia yang berbeda, sehingga analisis fisik dan kimia perlu dilakukan. Sebenarnya analisis secara kimia saja tidak cukup, percobaan dengan ternak harus dilakukan karena bahan pakan yang menandung nutrisi tinggi mungkin saja mempunyai kecernaan yang rendah (Suparjo,). Kualitas nutrisi bahan makanan ternak merupakan faktor utama dalam menentukan kebijakan dalam pemilihan dan penggunaan bahan pakan tersebut sebagai sumber zat makanan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksinya. Kualitas nutrisi bahan pakan dapat diketahui dengan melakukan pengujian secara fisik melalui alat inderawi yang prinsipnya adalah melakukan suatu kegiatan pengamatan yang melibatkan pengumpulan data-data atau keterangan-keterangan dengan alat indera sebagai penerima, pengujian secara kimiawi untuk mengetahui komposisi nilai gizi, serat dan energi serta aplikasinya pada nilai palatabilitas dan daya cerna (Evaluasi biologis) (A.Mujnisa.,2008). Karakteristik atau sifat bahan makanan ternak sangat berpengaruh dalam proses pengolahan bahan pakan. Banyak jenis pakan lokal yang ketersediannya cukup potensil tetapi penggunaan bahan baku lokal ini sering menimbulkan kesulitan bagi pengelola pabrik pakan yang menangani dan memprosesnya, karena adanya perbedaan sifat.Pengetahuan tentang sifat fisik pakan belum berkembang dibanduing dengan sifat fisik pada bahan pangan yang telah banyak diteliti(Alamsyah.,2002). Pengecilan ukuran partikel dan kadar air tidak berpengaruh nyata terhadap pengukuran berat jenis dari berbagai kelompok bahan pakan sumber energi, sumber hijauan, sumber protein nabati dan hewani serta bahan pakan sumber mineral. Berat jenis akan berhubungan erat dengan porositas ransum. Porositas adalah ratio antara kerapatan tumpukan dengan berat jenis. Porositas ini akan menunjukkan besarnya volume ruang antara partikel dalam suatu tumpukan ransum dan berperan penting dalam mencapai efisiensi pengeringan bahan kerena berkaitan erat dengan daya hantar panas di dalam tumpukan bahan(Mustari.,2000). Ukuran partikel bahan sangat berpengaruh terhadap kerapatan tumpukan yaitu pengecilan ukuran partikel akan menurunkan nilai kerapatan tumpukan pada bahan pakan. Selain pengecilan ukuran, kandungan air juga turut berpengaruh dimana nilai kerapatan tumpukan akan semakin turun dengan meningkatnya kadar air bahan pakan (Alamsyah.,2002). Pengujian pakan bertujuan antara lain untuk menyusun formula pakan, mengevaluasi Kualitas pakan, memeriksa nutrisi yang dapat tercerna ,dan memastikan nilai nutrisi dari Pakan tersebut. Kualitas pakan secara umum dapat ditunjukkan dari nilai TDN (ME dan NE ) yang diperhitungkan dari nilai hasil analisa pakan. Kualitas bahan pakan sangat menentukan produktivitas ternak yang dipelihara, bahkan kualitas pakan yang sangat buruk dapat mengancam kehidupan ternak yang mengkonsumsinya. Bau tengik misalnya disebabkan oksidasi dari asam-asam lemak tidak jenuh yang terdapat pada minyak dan lemak. Terjadinya perubahan warna pada bahan pakan menandakan bahwa pakan tersebut menurun kualitasnya dijumpai misalnya pada dedak terjadi perubahan warna dari warna asli kuning kecoklatan menjadi merah jambu bahkan sampai hitam, pada jagung kuning yang berwarna kuning berubah menjadi coklat sampai hitam akibat tumbuh jamur pada jagung tersebut (Alamsyah.,2002). III. MATERI DAN METODA 3.1 Waktu dan Tempat Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 21 April 2011, pada hari kamis jam 14.00 WIB sampai dengan selesai. Tempat dilaksanakanya praktikum di laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi. 3.2 Materi Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat-alat tulis dan alat hitung. 3.3 Metoda Mengamati dan memperhatikan cara pengambilan sampel yang representatif dan menhitung kadar air sampel segar. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Preparasi Sampel Dalam pengambilan bahan pakan diperlukan preparasi sampel untuk memperoleh hasil yang benar dan harus representatif. Dalam pengambilan sampel tersebut dilakukan dengan memperhatikan homogenitas sampel, cara pengambilan sampel, jumlah sampel, penanganan sampel, prosesing sampel dan penentuan kadar air sampel segar. Homogenitas sampel yaitu efek ukuran dan berat partikel sangat berpengaruh terhadap homogenitas bahan. Bahan harus dicampur secara merata atau sampel diambil secara acak sehingga diperoleh sampel yang benar representatif. Demikian juga pada hijauan disuatu lahan, kualitas hijauan pada tiap bagian tanaman atau lahan mempunyai kualitas berbeda. Cara pengambilan sampel digunakan dengan menggunakan dua cara yaitu aselektif dan selektif. Aselektif yaitu pengambilan sampel secara acak dari keseluruhan bahan tanpa memisahkan bagian dari bahan tersebut. Selektif yaitu pengambilan sampel secara acak dari bagian tertentu suatu bahan. Jumlah sampel yang diambil akan sangat berpengaruh terhadap representatif sampel yang diambil. Jumlah sampel tergantung dari kebutuhan untuk evaluasi dan jumlah bahan yang diambil sampelnya. Sebagai pedoman jumlah sampel yang diambil 10 % dari jumlah bahan. Penanganan sampel. Sampel yang telah diambil harus segera diamankan agar tidak rusak. Misalnya terjadi penguapan air, pembusukan ataupun tumbuhnya jamur. Sampel yang mempunyai kadar air rendah (